Senin, 05 April 2010

Cegah si Upik Gugur

Dua kali toksoplasma merenggut janin Dwi Istikomah. Rutin mengkonsumsi ekstrak ganggang, Istikomah pun sukses menimang buah hati.

Sepulang kerja, Dwi Istikomah yang tengah hamil 3 bulan tiba-tiba letih luar biasa. Malam harinya ia demam dan pandangannya berkunang-kunang hingga jatuh pingsan. Nugroho Heri, sang suami, melarikan Istikomah ke rumahsakit. Dokter tak dapat mempertahankan janin lantaran Istikomah positif toksoplasma dengan angka IgG mencapai 166, seharusnya negatif. Keguguran pertama itu pada Oktober 2006.

Setelah kondisinya pulih, perempuan 28 tahun itu memperbaiki pola makan, memperbanyak konsumsi protein, vitamin, dan suplemen untuk meningkatkan stamina. Apoteker alumnus Universitas Setia Budi Surakarta itu kembali hamil setahun berselang. Namun, kehadiran janin itu membuat stamina Istikomah anjlok.

“Gejalanya seperti kehamilan pertama,” kata Istikomah. Tim dokter sebuah rumahsakit di Kudus, Jawa Tengah, menemukan antibodi antitoksoplasma positif dalam darahnya. Artinya, parasit Toksoplasma gondii itu masih berjangkit di rahimnya. Ia pun kembali harus kehilangan calon buah hatinya pada November 2007. Dua kali keguguran membuat Dwi patah arang.

Rentan

Toksoplasma yang menjangkiti Dwi Istikomah disebabkan protozoa parasit Toksoplasma gondii. Kehadiran protozoa itu dalam tubuh diuji dengan tes TORCH alias toksoplasma, rubella, CMV (cytomegalovirus), dan herpes. “Keempat penyakit itu salah satu penyebab gangguan kehamilan di dunia,” ungkap Dr Kerry R Kartosen SpOG, ginekolog dari Rumah Sakit Islam Hajar, Sidoarjo, Jawa Timur.

Penyakit ditularkan kalau orang mengkonsumsi daging setengah matang yang mengandung kista parasit. Jalan lain, penularan terjadi melalui tangan setelah berkebun atau memegang daging mentah. Gejala serangan berupa pembesaran kelenjar getah bening, sakit kepala, dan demam—persis yang dialami Istikomah.

Menurut Kerry usia kehamilan muda di bawah 6 bulan rentan terserang toksoplasma. Pasalnya, antibodi janin belum terbentuk sehingga parasit mudah menyerang. Akibat serangan itu terjadi keguguran. Kalau pun selamat sampai lahir, bayi cacat bawaan berupa kerusakan otak, tuli, atau kelainan mental. Janin aman dari toksoplasma pada usia kehamilan minimal 6 bulan. “Kalau stamina ibu kuat, parasit bakal dilumpuhkan. Biasanya seseorang yang pernah terjangkit toksoplasma bakal kebal,” kata Kerry.

Dr Zen Djaja, dokter sekaligus herbalis di Malang, Jawa Timur, menyatakan kasus Dwi terjadi lantaran parasit telanjur memproduksi racun yang tersimpan di kapiler pembuluh dan tersirkulasi dalam tubuh. “Ibunya memang sudah membentuk antibodi, tapi janinnya belum,” kata Zen. Saat darah ibu mengalir ke janin lewat plasenta, racun itu menyerang sel darah janin. Akibatnya pembentukan janin terganggu dan keguguran.

Itulah yang 2 kali dialami Istikomah. Awal 2008, seorang rekan kerja menyarankan Istikomah untuk mengkonsumsi spirulina. Namun, ia tak serta-merta menuruti saran itu. “Kapsul spirulina itu sempat beberapa hari saya biarkan di meja makan,” kata Istikomah. Namun, akhirnya ia mengkonsumsi 2 kapsul 2 kali sehari. Musababnya, sakit kepala yang menderanya lenyap beberapa jam usai menelan 2 kapsul.

Sepekan rutin mengkonsumsi, tubuhnya terasa segar saat bangun pagi. Sore hari sepulang kerja pun ia tidak merasakan letih seperti sebelumnya. Padahal, ketika pekerjaan menumpuk, Istikomah mesti melakukan pengujian kualitas secara maraton sampai acap melewatkan makan siang. “Tubuh saya terasa lebih fit,” kata Istikomah. Spirulina yang dikonsumsi Istikomah hasil budidaya di Jepara, Jawa Tengah.

Imunitas meningkat

Pada Oktober 2008, untuk ketiga kalinya Istikomah hamil. Lantaran 2 kehamilan terdahulu gugur menjelang bulan ketiga, ia mengkonsumsi 2 kapsul spirulina 2 kali sehari sampai bulan ke-4 kehamilan. Setelah itu ia menghentikan konsumsi spirulina. Akhirnya pada Juni 2009, Dwi melahirkan bayi perempuan berbobot 2,8 kg dan panjang 48 cm melalui bedah caesar. Persalinan mesti dilakukan lewat operasi lantaran posisinya terbalik alias sungsang.

Menurut Dr Zen, spirulina sebetulnya tidak bersifat antivirus, antibakteri, atau antiparasit. “Orang yang mengkonsumsi spirulina mendapat asupan gizi lebih baik sehingga kekebalan tubuhnya juga meningkat,” kata dokter alumnus Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta itu.

Spirulina juga tinggi protein—1,6 kali kandungan protein tempe—menjadikannya sumber gizi potensial untuk perbaikan metabolisme dan regenerasi sel. Protein nabati lebih baik ketimbang protein hewani lantaran, “Desain sistem pencernaan manusia lebih mudah menyerap protein nabati ketimbang protein hewani,” kata Prof I Nyoman Kabinawa, peneliti alga di Pusat Penelitian Biologi LIPI di Cibinong, Bogor. Alga itu kaya asam amino, zat besi, serat, dan vitamin B lengkap. Tubuh Istikomah mampu memerangi protozoa parasit lantaran kekebalan meningkat. Sehingga impian menimang buah hati pun menjadi kenyataan. sumber majalah trubus.

Menambal Jantung si Upik

Tangis Syifa Zulfikria mereda setelah Syawlia Basriani, sang ibu, memberikan sebotol susu. Bocah 4 tahun itu asyik meminum susu cokelat dalam botol berukuran 120 ml. Syifa tampak sehat, aktif, dan lincah. Padahal, ia mengidap ventricular septal defect (VSD) alias bilik jantung bocor sejak berusia 9 bulan.

Tak ada yang berbeda dari Syifa. Layaknya seorang balita, Syifa senang bermain. Syawlia mengizinkan anaknya bebas beraktivitas padat karena batuk, pilek, dan demam yang diderita Syifa itu sembuh.

Sejak berusia 3 bulan, ketiga penyakit itu memang sering menyerang Syifa. Tak lama sembuh, sepekan kemudian sakit lagi. Saat malam, bocah itu kerap menangis, susah tidur, dan sesak napas. Wajahnya letih dan lesu. Ia juga gampang lelah. Demam tinggi hingga 40oC juga pernah dialami siswa Taman Bermain Sekar Melati, Bekasi, itu. Bolak-balik ke dokter tidak membuat kondisi Syifa membaik.

Jantung bocor

Kondisi anaknya yang tak kunjung membaik mendorong Syawlia membawa Syifa ke dokter spesialis anak. Hasil diagnosis di luar dugaan. Dokter di kawasan Paseban, Jakarta Pusat, itu menyarankan untuk membawa Syifa ke spesialis jantung.

Semula Syawlia tidak percaya dengan diagnosis dokter, sehingga saran itu diabaikan begitu saja. Masa anak kecil jantungan, kata Syawlia tak percaya. Namun, 3 bulan berselang, penyakit itu tak kunjung sembuh. Selama 9 bulan, bobot tubuh Syifa tidak meningkat. Suplemen dan vitamin anak yang diasup tidak mampu meningkatkan bobot tubuhnya.

Khawatir dengan kondisi putrinya, dokter spesialis anak kembali disambangi. Berbekal surat rujukan, Syifa menjalani pemeriksaan ekokardiografi di Rumahsakit Ciptomangunkusumo, Jakarta. Hasilnya, dokter spesialis jantung anak menyatakan, ada kelainan bawaan pada jantung Syifa. Kelainan itu adalah ventricular septal defect (VSD), ada kebocoran pada bilik kiri jantung selebar 3,5 mm. Namun, karena lubang tergolong kecil, penanganannya hanya kontrol tiap bulan dan pemeriksaan ekokardiografi tiap 6 bulan.

Operasi hanya bisa dilakukan bila kebocoran 10-12 mm. Lagi pula ada kemungkinan penyakit itu sembuh sendiri seiring waktu. Dokter pun tidak memberikan obat. Hanya saja dokter menyarankan, banyak istirahat, konsumsi makanan bergizi, dan hindari perjalanan jauh.

Dicampur susu

Lantaran tak mau diam, bocah periang itu dibebaskan bermain. Menjelang tidur kadang-kadang, ia mengeluh lelah minta dipijat. Saat pemeriksaan kedua pada September 2004, kebocoran membesar menjadi 5 mm. Syawlia pasrah. Saya hanya bisa menunggu penyakit membaik dengan sendirinya, ujar istri Irfansyah itu.

Di antara kegalauan itu, kerabat di Bogor menawarkan spirulina. Syawlia akhirnya memberikan ganggang hijau biru itu kepada putrinya. Ia mencampur sekaleng susu 400 gram dan satu sendok teh spirulina. Sekali minum, 60 gram susu plus spirulina itu dicampur air putih jadi 120 ml susu cokelat. Sehari Syifa bisa lima kali minum.

Empat bulan mengkonsumsi spirulina mulai terlihat perbedaan. Bobot badan mulai meningkat 0,5-1 kg per bulan. Batuk dan pilek pun menjauh. Syifa terlihat lebih segar dan sehat. Kebahagiaan Syawlia bertambah ketika hasil pemeriksaan ekokardiografi ketiga: lubang dinyatakan mengecil menjadi 4 mm.

Tidak biru

VSD merupakan penyakit jantung bawaan. Penyakit itu ditandai kebocoran pada ventrikel atau bilik. Ada lubang antara ventrikel kanan dan ventrikel kiri sehingga mengganggu aliran darah. Pada kasus VSD, aliran darah mengalir langsung dari ventrikel kanan ke ventrikel kiri karena ada lubang antara ventrikel. Imbasnya, tekanan darah meninggi pada saluran menuju paru-paru. Paling parah akan menyebabkan gagal jantung, kata Prof dr Harmani Kalim MPH, SpJP(K), spesialis jantung RS Harapan Kita, Slipi, Jakarta Barat.

VSD bisa dideteksi dari bunyi detak jantung yang tidak normal. Ada tambahan bunyi detak jantung. Bunyi jantung bising, kata dokter kelahiran Solo, 64 tahun silam itu. VSD tidak menimbulkan gejala biru pada bagian tubuh tertentu atau dikenal dengan istilah nonsianotik. Karena darah kotor dari bilik kanan tidak beredar ke seluruh tubuh, tetapi menuju paru-paru.

Hingga saat ini penyebab VSD belum diketahui. Menurut guru besar kardiologi Universitas Indonesia itu, kelainan bisa dipengaruhi obat, jamu, dan infeksi virus. Namun, penyebabnya tetap tidak bisa diketahui secara pasti. Yang pasti kelainan itu terjadi saat pembentukan jantung dan pembuluh darah, pada usia kehamilan 3 bulan pertama. Penyakit bisa dideteksi pada masa fetus alias janin dengan melakukan ekokardiografi. Idealnya pada usia kehamilan 16 minggu saat jantung telah terbentuk sempurna. Walau tak bisa dicegah, VSD perlu diwaspadai sejak dini agar si kecil tumbuh sehat.

Kelainan pada jantung itu berefek pada gangguan pertumbuhan dan kesehatan. Misalnya, bobot badan tidak meningkat sesuai usia, pilek, demam, batuk, dan rentan terkena infeksi paru. Anak lesu dan mudah lelah. Pemeriksaan itu antara lain EKG (elektrokardiogram), foto rontgen, dan ekokardiografi.

VSD pada anak dengan kebocoran tidak terlalu besar bisa menutup sendiri seiring bertambahnya usia. Penanganan lainnya tergantung tingkat keparahan. Salah satunya dengan intervensi nonbedah-tanpa bedah jantung terbuka-menggunakan Amplatzer Ventricular Septal Occluder untuk menutup kebocoran ventrikel.

Ketahanan tubuh

Mudah lelah, sulit menyusui karena sesak napas, batuk, berat badan tidak meningkat, dan demam merupakan gejala umum VSD. Gangguan pertumbuhan dan kesehatan itu menggerogoti ketahanan tubuh penderita VSD bahkan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Saat sakit, tubuh juga rentan terhadap serangan penyakit lain. Spirulina membantu meningkatkan stamina penderita, ujar dr Suhenry Sastranegara. Menurut dokter yang praktek di Apotik Intan Farma, Daanmogot, Jakarta Barat, itu, kandungan nutrisi lengkap dalam spirulina secara sinergis meningkatkan ketahanan tubuh penderita dari gangguan penyakit lain. Berbagai produk seperti Spirumate, Spirutrend, Spirulina Pasifica, dan spirulina budidaya peneliti LIPI, Prof I Nyoman Kabinawa, dapat dijadikan pilihan.

Spirulina mengandung asam aspartat, glisin dan vitamin B kompleks yang membantu sintesis energi. Asam aspartat, misalnya, berfungsi meningkatkan stamina dan mengatasi kelelahan.Riset Hayashi pada 1994 membuktikan, spirulina mampu meningkatkan produksi antibodi. Seperti dikutip Journal of Nutrition Science and Vitaminology, spirulina meningkatkan kekebalan tubuh dengan merangsang fungsi makrofag, fagositosis, dan produksi interleukin-1 (IL-1). Menurut Baojiang yang meneliti efek polisakarida pada spirulina bagi kekebalan tubuh, dosis spirulina 150-300 mg per kg bobot badan meningkatkan persentase fagosit dan indeks fagosititas makrofag abdominal serta persentase T limfosit.

Walaupun mengecilnya lubang kebocoran disebabkan hal yang belum diketahui secara pasti, dengan spirulina Syifa tidak lagi gampang lelah, batuk dan demam. Ia kini sehat walafiat. sumber majalah trubus.

Spirulina Akhiri Sirosis

“Usia Anda tinggal 3 bulan.” Itulah vonis dokter yang mempercepat degup jantung Daniel. Hasil pemeriksaan dokter, Daniel positif sirosis hati. Sarjana kedokteran itu tak habis pikir dirinya mengidap sirosis. Maklum, ia tak pernah menderita hepatitis, penyakit yang lazim mengawali sirosis hati.

Diagnosis dokter benar-benar mencemaskan Daniel dan keluarganya. Apalagi dokter tak memberikan obat untuk mengatasi penyakit maut itu. Hanya vitamin dan suplemen yang diresepkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang anjlok.

Tak puas hasil pemeriksaan dokter di dalam negeri, Daniel diboyong ke salah satu rumahsakit di Jepang. Hasil diagnosis dokter mancanegara sama saja: sirosis dan mulai berkembang menjadi kanker hati. Untuk mencegah hal itu, dokter menyarankan agar hati yang sudah mengeras itu ditransplantasi alias dicangkok. Karena keterbatasan donor, hati yang rusak diganti dengan hati babon, sejenis primata.

Mendengar saran sang dokter, kontan saja Daniel sekeluarga menolak. Tak setuju dengan saran dokter di Jepang, Daniel diboyong ke Australia. Harapan sembuh kini ia sandarkan ke salah satu rumah sakit di Negeri Kanguru itu. Namun, lagi-lagi para dokter di sana menyarankan hal yang sama, yaitu pencangkokan hati. Serasa menemui jalan buntu, akhirnya Daniel kembali diboyong ke tanahair.

Maag

Penyakit ganas itu bermula dari rasa mual dan perih berhari-hari di perut Daniel. Sarjana kedokteran itu mengunjungi seorang dokter. Diagnosis sang ahli medis, Daniel mengidap maag. Mulai saat itulah—awal 1995—ia mengkonsumsi obat maag.

Meski berbulan-bulan mengkonsumsi obat maag, tak ada tanda-tanda membaik. Atas saran seorang rekan, alumnus salah satu perguruan tinggi di Semarang, Daniel meminum segelas susu kefi r per hari. Sayang, upaya itu tak membawa kesembuhan.

Setahun berselang, rasa mual yang diderita Daniel menghebat. Tak hanya itu, ia juga merasakan nyeri di ulu hati dan sering buang air besar. Nafsu makan hilang. Dalam hitungan pekan, bobot tubuh pria 57 tahun itu anjlok hingga 21 kg. Karena kekurangan nutrisi, Daniel kerap tak sadarkan diri. Ia tak bisa mengenali orang-orang di sekitarnya.

Melihat gejala itu, Daniel dibawa ke Rumah Sakit Elizabeth, di Semarang oleh istri dan Yohan, salah seorang anaknya. Hasil diagnosis dokter, pendarahan lambung. Karena penasaran, dokter pun melanjutkan pemeriksaan dengan alat pemindai ultrasonografi . Daniel terkena sirosis hati. Kadar SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase) mencapai 279 U/L dan SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) mencapai 160 U/L. Jumlah itu sangat tinggi dibanding kadar normal SGOT: 53 U/L dan SGPT: 0—41 U/L.

Spirulina

Rupanya kisah penderitaan Daniel tersiar hingga ke salah satu kolega di Th ailand. Dari sana rekannya mengirim sebotol kapsul spirulina berisi 100 kapsul. “Saya sudah tahu khasiat spirulina, tapi belum pernah mencobanya,” ujarnya. Karena berhasrat sembuh, ia pun rutin mengkonsumsi 10 kapsul berwarna hijau tua itu per hari.

Sebulan kemudian, kondisi Daniel membaik. Rasa mual perlahan sirna dan nafsu makannya mulai bangkit. “Semula saya hanya makan pisang. Ketika itu saya mulai bisa makan nasi,” kenangnya. Vonis dokter bahwa usianya pendek rupanya tidak terbukti.

Enam tahun Daniel bergelut dengan sirosis, selama itu pula ia mengkonsumsi spirulina. Penasaran dengan usia panjang yang diperolehnya, pada 2002 ia mencoba memeriksakan diri ke Rumah Sakit Elizabeth, yang dulu pernah merawatnya. Setelah diperiksa tes darah, hasilnya mencengangkan. Pada sampel darah Daniel tak satu pun ditemukan sel kanker.

Berisiko

Sirosis adalah kondisi jaringan hati yang sehat digantikan oleh jaringan parut, seperti keloid yang sering terbentuk pada bekas luka. Aliran darah menuju hati terhambat. Akibatnya, fungsi hati terganggu. Padahal, hati berfungsi menetralisir racun dalam darah, membentuk senyawa yang berperan dalam kekebalan tubuh, dan memusnahkan kuman dari darah.

Menurut Prof Dr H Nurul Akbar SpPDKGEH, ahli hepatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, sirosis tak hanya membayangi penderita hepatitis kronis. Mengkonsumsi makanan berbahan pewarna dan pengawet makanan beracun turut memicu sirosis. Penyebab lainnya yakni kurang gizi dan konsumsi alkohol.

Penderita sirosis hati biasanya mengalami gangguan produksi energi. Sebab, hati tak mampu mengubah glukosa menjadi glikogen. Oleh sebab itu, diperlukan sumber energi lain yakni protein. Protein yang dapat digunakan adalah asam amino rantai cabang yang lazim terdapat pada protein nabati. Pasien penyakit hati paling baik mengkonsumsi tahu dan tempe. Sumber protein hewani seperti daging, telur, dan ikan, kurang baik lantaran mengandung asam aromatik yang menghasilkan amonia. Kadar amonia berlebihan menyebabkan koma hepatik.

Disarankan dokter

Dokter Suhenry Sastranegara, di Green Garden, Jakarta Barat, menyarankan mengkonsumsi spirulina kepada para pasien, khususnya penderita sirosis. Menurutnya, kandungan protein nabati spirulina 1,6 kali lebih tinggi ketimbang tempe. Hasil penelitian menyebutkan, 5,98% senyawa arginin dalam spirulina membantu detoksifi kasi—penetralan zat beracun—pada sirosis hati dan fatty liver.

Keampuhan spirulina memperbaiki kinerja hati telah dibuktikan K Morita dan T Matsueda, dari Fukuoka Institute of Health and Environmental Studies, Fukuoka, Jepang. Seperti dikutip Japan Journal Toxicology Environmental Health, mereka meneliti peningkatan kadar polychlorinated dibenzo-p-dioxins (PCDDs)—polutan pemicu kanker yang larut dalam lemak— pada feses tikus jantan.

Tikus percobaan itu diberi makanan yang mengandung 20% klorela, 20% spirulina, 2% klorofi lin, dan 2% klorofi lin ditambah 10% nasi beras tumbuk. Lima hari kemudian, tikus diberi asupan minyak bekatul yang terkontaminasi PCDDs dengan dosis 0,5 ml/4 g bobot tikus.

Setelah lima hari, kadar PCDDs feses tikus dianalisis dengan kromatografi gas beresolusi tinggi dan spektometer massa. Hasilnya, kadar PCDDs pada feses tikus yang diberi makanan yang mengandung 20% klorofi l, 20% spirulina, dan 2% klorofi lin, masing-masing 7,4, 7,1, dan 11 kali lebih tinggi ketimbang kontrol. Itu pertanda, kinerja hati tikus membaik sehingga mampu menetralisir PCDDs dan membuangnya lewat feces.

Bukti itu memperkuat dugaan Suhenry bahwa spirulina membantu proses detoksifi kasi. Zat beracun penyebab sirosis, perlahan terkuras. Memang cara kerjanya membutuhkan waktu 6 tahun. Meski begitu, toh usia Daniel lebih panjang dari dugaan dokter. sumber majalah trubus.

Hadang Stroke dengan Spirulina

Adzan Subuh berkumandang. Soleh Ismail membangunkan Rahmalina untuk sholat Subuh berjamaah. Namun, betapa kagetnya Soleh, istrinya itu tak bisa bangkit dari pembaringan. Tubuh perempuan 66 tahun itu tak bertenaga. Meski Soleh membantunya, Rahmalina tetap tak bisa bangun. Ia benar-benar kehilangan kekuatan. Pagi itu juga Rahmalina dilarikan ke rumahsakit.

Kejadian berawal pada suatu hari, pertengahan April 2006. Suara adzan Magrib sore itu disambut Rahmalina dan Soleh dengan berbuka puasa. Kolak pisang yang tersaji di meja menggoda selera untuk disantap. ‘Jangan, itu manis,’ Soleh melarang Rahmalina yang berniat mencicipi kolak. Itu karena riwayat penyakit diabetes yang disandang Rahmalina. Namun, ibu 6 anak itu nekat mencicipinya sebanyak 2 sendok.

Tak disangka manisnya kolak berbuntut penderitaan. Itu persis Rahmalina alami pada 2005. Setelah mencicipi kolak, 15 hari akhirnya ia dirawat di rumahsakit. Kini, pengalaman itu terulang. Kadar gula Rahmalina melonjak 575 mg/dl; kadar gula normal setelah makan 110-160 mg/dl. Efeknya, menyerang ke bagian saraf, seluruh tubuhnya terasa lemas. ‘Ngga kuat bangun, rasanya lemas tak bertenaga,’ kata Rahmalina.

Dokter di rumahsakit di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, tempatnya dirawat, menyatakan Rahmalina mengalami penyempitan pembuluh darah di kepala. Selama opname, perempuan kelahiran Padang itu kerap disuntik insulin. Tak ketinggalan obat-obatan dalam bentuk kapsul dan cairan diasupnya. ‘Sampai bosan saya makan obat dan disuntik,’ keluh Rahmalina.

Toh kesembuhan bagai api jauh dari panggang. Kondisi nenek 6 cucu itu tak ada perubahan berarti. Sehari-hari ia hanya tergolek di ranjang rumahsakit. Karena harapan sembuh kecil, pihak rumahsakit merujuknya ke rumahsakit Pertamina, Mayestik, Jakarta Selatan. Di rumahsakit itu pun ia hanya bertahan 3 hari karena alasan tak ada kemajuan. Perempuan yang hobi memasak itu juga bosan dengan jarum suntik. ‘Saya tidak tahan lagi disuntik terus-terusan,’ kata Rahmalina.

Kembali berjalan

Pihak keluarga terus berupaya menyembuhkan penyakit Rahmalina. Beberapa ahli pengobatan alternatif disambangi, tetapi tetap tak ada hasil. Hingga suatu hari, Frans, putra Rahma, memberinya spirulina atas saran seorang teman. Menurut temannya, kandungan ganggang hijau biru itu dipercaya dapat mengurangi gejala beragam penyakit tanpa efek samping. Tanpa pikir panjang, 5 butir spirulina diasupnya rutin 3 kali sehari.

Dua minggu mengkonsumsi spirulina, perubahan mulai terlihat. ‘Saya sudah bisa duduk,’ kata wanita murah senyum itu. Sebelumnya, menahan bobot tubuh saja tak mampu sehingga ia sering jatuh lemas bila duduk tanpa penyangga. Sebulan kemudian, perubahan makin kentara. Ia mulai bisa berjalan meski sambil berpegangan. Wajahnya pun terlihat cerah dan segar. Anak keempat yang tinggal bersamanya pun melihat perubahan itu. ‘Alhamdulillah, mama sudah sehat,’ kata Rahmalina menirukan ucapan Frans.

Sejak itulah kadar gula Rahmalina terkontrol karena rutin mengkonsumsi spirulina. Hasil tes laboratorium kadar gula darah 155 mg/dl. Dengan kadar gula sebesar itu ia merasa sehat wal-afiat. Padahal sebelumnya ia membayangkan betapa menderitanya jika badannya tak bisa digerakkan sama sekali.

Radikal bebas

Kelumpuhan yang dialami Rahmalina bukan stroke. Stroke hanya menyerang sebagian anggota badan. Misalnya kaki dan tangan kiri saja, anggota tubuh bagian kanan tetap berfungsi. Sedangkan Rahmalina merasakan kedua tangan dan kakinya lemah, lebih tepatnya disebut arteriosklerosis.

Arteriosklerosis merupakan penyempit-an pembuluh darah karena adanya penyumbatan, penebalan, atau kurang lenturnya dinding arteri. Pada kondisi itu, bahan lemak terkumpul di bawah lapisan sebelah dalam dari dinding arteri. Menurut dr H. Arijanto Jonosewojo, SpPD, spesialis penyakit dalam RSU dr Soetomo Surabaya, pada penderita diabetes, darah mengental bisa mengakibatkan pembuluh darah tersumbat sehingga terjadi arteriosklerosis.

Penyumbatan dapat terjadi di berbagai bagian tubuh: otak, jantung, ginjal, organ vital lain, lengan, dan tungkai. Jika terjadi di otak, arteriosklerosis berisiko menimbul-kan stroke iskemik. Stroke iskemik berarti tidak berfungsinya jaringan otak lantaran kurangnya darah yang membawa oksigen ke sana karena adanya penyumbatan pembuluh darah.

Radikal bebas menyebabkan arteriosklerosis. Spirulina mengandung antioksidan, seperti betakaroten, zeaxantin, fikosianin, asam amino, dan superoksida dismutase (SOD), yang berfungsi menetralisir reaksi radikal bebas. SOD berperan dalam melawan radikal bebas dengan mengurangi bentuk radikal bebas superoksida. Sementara betakaroten dan zeaxantin, mampu menghambat hidrogen peroksida.

Kandungan tokoferol (vitamin E) sebanyak 190 mg/kg pada spirulina juga membantu melawan pembentukan gumpalan darah. Penelitian Tom Saldeen MD, PhD, FACC dari Department of Forensic Medicine, University of Uppsala, Uppsala, Swedia, menunjukkan aktivitas antioksidan vitamin E mampu menurun-kan platelet agregasi dan menekan pembentukan gumpalan darah dalam pembuluh darah.

Rahma juga memperoleh manfaat penurunan kadar gula darah dari spirulina. Efek spirulina itu dibuktikan oleh Uliyar Mani, PhD dan rekan yang melakukan studi klinis pada 15 penderita diabetes. Hasil penelitian Department of Foods and Nutrition, M S University of Baroda, Gujarat, India, itu menunjukkan adanya penurunan gula darah secara signifikan setelah penderita diabetes mengasup spirulina 2 gram/hari selama 21 hari. Selain itu, asam gamma linolenik dalam alga itu berfungsi menurunkan kadar lemak dalam darah. GLA membentuk fospolipid membran sel mencegah terbentuknya asam lemak jenuh. sumber majalah trubus.

Mag Kronis sang AmtenarBerakhir Manis

Beginilah kesibukan Syamsul Bachrie setiap hari. Pukul 06.00 ia meninggalkan rumah di Hila-hila, Kecamatan Bontotirto, Kabupaten Bulukumba, untuk mengunjungi minimal 3 Sekolah Dasar. Jarak antarsekolah puluhan kilometer. Sebagai pengawas Dinas Pendidikan, Syamsul juga merancang dan memantau berbagai kegiatan siswa SD se-Bulukumba.

Hanya itu? Menjelang sore, Syamsul Bachrie memacu kendaraannya ke Makassar dengan waktu tempuh 3,5 jam. Di kota Angin Mamiri itu ia melanjutkan pendidikan untuk meraih gelar sarjana. Kuliah di Fakultas Ilmu Pendidikan berlangsung 4 hari sepekan. Ia baru meninggalkan kampus Universitas Hasanuddin pukul 20.00 dan tiba di rumah pukul 23.30. Begitulah saban hari aktivitas Syamsul: pergi pagi dan pulang menjelang hari berganti.

Kesibukan itulah yang membuat amtenar alias pegawai negeri itu kerap lupa makan. Angin malam yang menerpa dan kondisi perut kosong membuat Syamsul sering merasa nyeri. Jika demikian, pria 48 tahun itu menelan pil antinyeri. Dua tahun lamanya ia menjalani kehidupan itu. Pada suatu pagi media Agustus 2004 ia hendak berangkat kerja. Namun, tibatiba perutnya melilit tak karuan. Terpaksa ia berbaring di kamarnya sambil berharap agar lilitan perut itu segera berakhir. Kenyataannya, jangankan mereda, sakitnya malah menjadi-jadi. Ia berguling-guling menahan nyeri. Kepala pening. Oleh istrinya, Bau Dahnia, ia disuapi beberapa sendok nasi. Namun, tak lama berselang, Syamsul muntah.

Hari itu juga ia memeriksakan diri ke dokter. Hasil diagnosis, Syamsul mengidap mag kronis dan hipertensi. Soal sakit mag, Syamsul sudah menduganya. Hipertensi? Ia tak pernah menyangka. Tekanan darahnya melonjak 180 mmHg, idealnya 140 mmHg.

Langganan rumahsakit

Sejak itu Syamsul mudah jatuh sakit. Sedikit saja terkena hujan, demam mendera. Tidur pulas pun menjadi mahal. Ia kerap terjaga menahan rasa sakit di perut. Jangankan beraktivitas seperti biasa, mengangkat tubuh dari tempat tidur pun sulit. “Bobot tubuh saya turun 20 kg dari 80 kg dalam 2 tahun,” kata pria setinggi 170 cm itu. Penyebabnya, kekurangan cairan dan zat gizi.

Ia sempat menjalani perawatan di rumahsakit selama sepekan. Berbagai jenis obat-obatan kimia dikonsumsi dan Syamsul disarankan dokter disiplin makan. Makanan serta minuman pemicu asam lambung dihindari, misalnya kopi, makanan berlemak, mengandung cuka, lada, dan bumbu menyengat.

Pulang dari rumahsakit, Syamsul kembali beraktivitas seperti semula. Namun, sebulan kemudian mag sekaligus hipertensinya kembali kambuh. Lagi-lagi ia harus masuk rumahsakit. Bahkan ejak itu setiap bulan Syamsul menjadi pelanggan tetap rumahsakit.

Syamsul heran, obat dokter yang diminumnya selama ini tak membuahkan hasil sama sekali. Tak ingin berlama-lama menderita, Syamsul mencoba berbagai alternatif pengobatan. Saran seorang teman untuk mengkonsumsi bawang putih dan rimpang kunyit muda segar dijalani. Satu siung Allium sativum dan satu jari telunjuk Curcuma domestica dimakan berbarengan dengan sepiring nasi. Hasilnya, rasa sakit untuk sementara hilang. Namun, bila mantan kepala sekolah itu tidak mengontrol pola makan, rasa sakit kembali mendera. Tak heran, dalam 2 tahun bobot tubuh Syamsul menyusut 20 kg tinggal 40 kg.

Spirulina

Jalan kesembuhan terkuak saat Yuna, adik sepupunya, memberikan informasi tentang keampuhan spirulina mengobati mag dan hipertensi. Mulailah Syamsul mengkonsumsi 2 kapsul spirulina 2 kali sehari. Sebelum mengkonsumsi ganggang biru itu, Syamsul menelan makanan meski sedikit. Anehnya, pekan pertama Syamsul malah demam tinggi, sesak napas, dan sakit pinggang. “Itu tanda adanya respon dari tubuh, spirulina mendetoksifi kasi racun yang ada,” kata Yuna kepada Syamsul.

Penjelasan sepupunya itu diterima sehingga Syamsul melanjutkan konsumsi spirulina. Betul, setelah itu berangsurangsur kondisinya membaik. Perut lebih ringan dan pencernaan lancar. Kini bobot tubuhnya meningkat 18 kg menjadi 58 kg. Tekanan darahnya pun kembali normal.

Kesembuhan Syamsul memperkuat bukti penelitian para ahli gizi di dunia tentang keampuhan spirulina mengatasi mag dan hipertensi. Salah satunya Tsuchihashi dari Chiba Hygiene College, Jepang. Ia menunjukkan konsumsi 5% spirulina selama 100 hari meningkatkan 327% populasi Lactococcus lactis, Streptococcus thermophilus, Lactobacillus casei, Lactobacillus acidophilus, dan Lactobacillus bulgaricus pada usus tikus.

Jumlah itu tiga kali lipat dibanding tikus tanpa konsumsi spirulina. Kelima jenis bakteri asam laktat itu terbukti mampu memperbaiki pencernaan dan penyerapan makanan, mencegah infeksi, dan merangsang sistem kekebalan tubuh.

Yang juga melakukan penelitian adalah V Fica dari Clinica II Medicala, Spitalui Clinic, Bukares, Rumania. Fica memberi tablet spirulina kepada 21 penderita kerusakan lambung dan pankreas. Hasilnya, bobot tubuh dan jumlah protein mereka meningkat.

Zat paling berpengaruh dalam spirulina adalah klorofi l, molekul hijau yang terdapat pada tumbuhan. Klorofi l melepaskan ion ketika mendapatkan sinar matahari. Ion-ion bebas itulah yang digunakan untuk merangsang berbagai proses kimia dalam pembentukan protein, vitamin, dan gula. Seluruh zat gizi itulah yang juga memperbaiki produksi asam lambung dan luka lambung.

“Asam lemak GLA (gamma linoleic acid) juga berpengaruh,” kata Prof I Nyoman Kabinawa. Menurut peneliti LIPI itu, GLA spirulina berfungsi merangsang hormon prostaglandin. Hormon itu berfungsi mengontrol berbagai fungsi esensial tubuh. Prostaglandin PGE-1 terlibat dalam beberapa tugas pokok tubuh: pengaturan tekanan darah, sintesis kolesterol, infl amasi, dan pembelahan sel.

Kendalikan stres

Menurut dr H Arijanto Jonosewojo, ahli penyakit dalam RSUD Dr Soetomo Surabaya, saraf di otak berhubungan dengan lambung, sehingga bila mengalami stres dapat memicu ketidak seimbangan atau perubahan. Perubahan itu merangsang sel-sel lambung dan hormon kortisol, memproduksi asam lambung. Jika produksi asam lambung berlebih, lambung nyeri, perih, dan kembung. Lama-kelamaan dinding lambung terluka.

Prof dr Walujo Soerjodibroto MSc PhD SpG, pakar gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menuturkan gangguan lambung dapat berupa gastritis dan tukak lambung. Disebut gastritis bila belum terjadi luka pada dinding bagian dalam lambung. Sedangkan bila terdapat luka disebut tukak lambung atau koreng lambung.

Pola makan tidak teratur menjadi salah satu penyebab gangguan itu. Lambung secara terpola memproduksi asam lambung untuk mencerna makanan agar bisa diserap tubuh. Asam lambung diproduksi lebih banyak pada saat seseorang akan makan.

Ketika tidak ada makanan yang masuk ke lambung, asam lambung tidak terpakai. Akibatnya terjadi kelebihan asam lambung yang menyebabkan erosi pada dinding lambung.

Selain memicu hormon kortison yang merangsang asam lambung, stres juga mengaktifk an pusat-pusat motorik di otak sehingga merangsang pengeluaran zat ACTH (adrenocortical realizing factor). Respons jantung terhadap zat itu adalah peningkatan tekanan darah yang mengakibatkan hipertensi, bertambahnya denyut jantung dan kebutuhan oksigen.

Spirulina sebagaimana hasil studi klinis Lopez dan Romero dari Medicina Holistica, Spanyol, aya akan GLA yang mampu menanggulangi penyakit akibat stres, penyakit jantung, depresi mania, schizofrenia, kegemukan, dan defi siensi zat besi. Wajar jika Syamsul Bachrie kini tak mau meninggalkan spirulina. Setiap kali pergi, di kantongnya selalu terdapat kapsul spirulina. Praktis walau tugasnya bertambah, kepala pusing, mag dan hipertensi tak mau mendekat. sumber majalah trubus.

Minggu, 04 April 2010

Spirulina: Tumbuhan Laut Penggempur Penyakit

Serangkaian pengobatan dilakukan untuk mengatasi penyebab bersarangnya penyakit di tubuh pria berusia 22 tahun itu. Namun, tetap tak memberi hasil memuaskan. Tiga bulan mengkonsumsi neometrasol, obat kimia untuk pengidap hipertiroid, hanya mengembalikan nilai tiroksin T3 dan T4 ke ambang normal yaitu 0.51-1.65 ng/dl dan 4.4-12.0 ug/dl. TSH, penanda aktivitas kelenjar tiroid tak juga menanjak.

Itu sebabnya tubuh Adi kerap pingsan, cepat lelah, suhu badan tak stabil, dan sering buang air kecil. Degup jantung saya lebih kuat dan cepat, kata Kurniadi.

Lantaran bosan dengan penyakitnya, 4 bulan berselang ia beralih mengasup makanan tambahan spirulina atas anjuran kerabatnya. Hasilnya, TSH perlahan meningkat mulai 0,06 mIU/L pada bulan pertama dan 0.57 mIU/L setelah 3 bulan konsumsi. Itu artinya normal karena berada pada interval 0.47-5.01 mIU/L. Pasien hipertiroid cenderung membutuhkan asupan antitiroid, vitamin dan mineral penunjang kesehatan, kata Dr Muhilal, ahli gizi di Bogor. Vitamin dan mineral berfungsi membantu memperlancar sekresi hormon peningkat kekebalan serta membersihkan racun dalam ginjal yang menghambat keseimbangan hormon tiroid dalam darah.

Kaya vitamin dan mineral

Menurut USDA, spirulina memiliki kandungan lengkap vitamin dan mineral. Carlos Jimenez dari Department of Ecology, Faculty of Sciences, University of Malaga, Spanyol menemukan kalsium spirulina 3 kali lebih tinggi dibanding susu hewani, zat besi 3 kali lebih besar dibanding bayam. Tidak salah bila suku Aztec memanfaatkan spirulina sebagai makanan sehari-hari untuk menjaga kesehatan. Ia efektif meningkatkan stamina dan sistem kekebalan tubuh.

Alga berwarna hijau kebiruan itu awalnya hanya diketahui sebagai penurun kolesterol. Pengujian ilmiahnya dilakukan oleh Nayaka dari Tokai University, Jepang. Sebanyak 30 pria sehat berkolesterol tinggi dan hiperlipidemia yang diberi asupan spirulina menunjukkan penurunan 4,5% jumlah serum kolesterol, trigliserida, dan LDL. Mereka mengkonsumsi 4,2 gram spirulina selama 4 minggu tanpa mengubah pola makan.

J. E. Piero Estrada dari Departament Farmakolog, Fakultas Farmasi, Universitas Madrid, Spanyol mengungkap spirulina kaya antioksidan lantaran kandungan 3 pigmen kaya protein yaitu phykosianin, klorofil, dan zeasantin. Phykosianin, antioksidan larut air, penunjang kesehatan hati dan ginjal. Zeasantin, antioksidan pelindung mata terutama saat tua. Sedangkan klorofil, antioksidan bersifat antikanker dan antiracun.

Antivirus

Selain antikanker dan antiracun, penelitian Laboratory of Viral Pathogenesis, Dana-Farber Cancer Institute and Harvard Medical School, Massachusetts, Amerika Serikat pada 1996 membuktikan, spirulina dalam konsentrasi 5-10 g/ml mampu menghambat pembelahan sel HIV-1. Itu disebabkan spirulina memiliki kandungan kalsium spirulan, molekul polimerisasi gula berisi kalsium dan sulfur. Konsumsi spirulina terbukti memberikan masa hidup lebih lama pada pasien AIDS.

Sedangkan Armida Hernandez-Corona dari Departamento de Microbiologia, Escuela Nacional de Ciencias Biologicas, IPN, Meksiko, menunjukkan ekstrak spirulina memiliki sifat antiviral. Ia efektif melawan virus herpes simpleks tipe 2, pseudorabies virus (PRV), human cytomegalovirus (HCMV), dan HSV-1, dengan dosis efektif (ED50) masing-masing sebesar 0,069, 0,103, 0,142, dan 0,333 mg/ml.

Karena manfaat yang luar biasa, Arthrospira platensis kini banyak dibudidayakan di seluruh dunia. Berjuta-juta pil spirulina pun telah diproduksi lantaran terbukti menghadang dan menggempur berbagai penyakit. Termasuk Kurniadi yang telah merasakan keampuhannya. sumber majalah trubus.

Tekanan Darah

Darah rendah tak pernah enyah dari tubuh Ice Dahriani (37 tahun). Tekanan darahnya tak pernah beranjak dari 90/60 mmHg. Idealnya, 120/80 mm/ Hg. Wajar bila pegawai bank swasta nasional itu kerap letih dan pusing. Atas saran suami, Ice mengkonsumsi 9 tablet spirulina 3 kali sehari. Sepekan berselang ia mengecek tekanan darahnya. Tumben normal, katanya. Ibu satu anak itu merasa lebih bugar dan fit. Itulah sebabnya ia meneruskan konsumsi spirulina.***

Mimisan

Mimisan disertai kepala pusing kerap mendera Stevie Mario sejak duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Hasil pemindaian menunjukkan, terjadi penyumbatan urat saraf. Vilania, sang ibu, memberikan spirulina 30 ml 3 kali sehari. Hanya dalam sebulan, mimisan itu berhenti hinggi kini saat usia Mario 14 tahun. Memang semula Vilania kaget mendapati darah beku keluar dari lubang hidung. Namun, sejak itu Mario sembuh mimisan.***

Pusing

Dokter memberi 40 jahitan di kepala Lina Liwan beberapa saat setelah tabrakan mobil di Pontianak, Kalimantan Barat. Pada penghujung senja, setahun lampau ia mengalami kecelakaan. Hingga luka itu sembuh, pusing-pusing tak kunjung sirna. Kalau lihat langit-langit, seperti berputar-putar, kata wirausahawan di Pontianak itu. Frekuensi pusing beberapa kali sehari. Atas saran seorang kerabat, ia akhirnya mengkonsumsi spirulina 2 sachet 2 kali sehari. Sepekan berselang, pusingnya berkurang dan hilang sama sekali setelah sebulan rutin minum spirulina. sumber majalah trubus.