Minggu, 04 April 2010

Ganggang Biru-Hijau Vs Kanker Nasofaring

Sepulang berkemah di kawasan Puncak, Cianjur, Tono-nama samaran-didera nyeri kepala berkepanjangan. Beberapa butir obat penghilang pusing ditelan, tapi nyeri itu seolah ajek. Kejadian 4 tahun silam itu diikuti munculnya benjolan sebesar telur puyuh di leher. Lita-sang ibunda-yang takut terjadi sesuatu segera membawanya ke Rumah Sakit Pluit di Jakarta Utara. Di sana dokter memvonis anak saya kena kanker nasofaring, tutur Lita.

Kabar mengejutkan itu sontak membuat semua persendian Lita terasa lemas. Ia benar-benar tak menduga anak sulungnya didera kanker. Ketika itu saya hanya bisa diam dan menangis. Saya merasa kasihan, ujar Lita. Saat palu vonis itu diketuk, Tono baru saja merayakan kelulusannya dari Sekolah Menengah Pertama. Ia memang mengisi waktu liburan dengan berkemah sambil menunggu pengumuman penerimaan dari sebuah Sekolah Menengah Atas di kawasan Jakarta Barat.

Benjolan itu tidak sengaja didapati. Rambut Tono yang panjang sebahu membuat benjolan itu tertutup. Herannya dia sendiri tidak merasa ada benjolan itu, ujar Lita. Maklum dengan bobot sekitar 80 kg, leher Tono tampak penuh lipatan kulit. Benjolan itu tampak setelah sang ayah mencukur rambutnya. Lo kok ini ada benjolan, ujar sang ayah seperti dituturkan Lita.

Saran dokter untuk melakukan biopsi-pemeriksaan jaringan hidup-membuat Lita ketakutan. Saya sering dengar biopsi menyebabkan kanker menyebar dan lebih ganas, ujarnya. Merasa tak puas, kelahiran Bangka-Belitung 45 tahun lalu itu mengecek Tono ke RS PGI Cikini di Jakarta Pusat. Kesimpulan sementara sama, perlu dilakukan biopsi.

Melalui bantuan kerabat dekat, Lita pun mengunjungi dokter spesialis kanker di bilangan Rawamangun. Setelah di CT Scan, dokter hanya bilang anak saya memang terkena kanker nasofaring stadium 1, ujarnya. Lita pun kembali dirujuk melakukan biopsi di RS Kanker Dharmais di Jakarta Barat.

Pengobatan alternatif

Pilihan biopsi sangat tidak diinginkan Lita. Setelah berembug bersama suami, Lita mencoba mencari pengobatan alternatif. Saya mendengar ada yang bisa menyembuhkan dengan pijitan di Sukabumi, ujar Lita. Tanpa pikir panjang, ia pun membawa Tono yang masih bisa beraktivitas normal ke sana. Sebulan pengobatan berjalan, hasilnya nihil. Benjolan itu malah tampak sedikit membesar.

Sebagai gantinya pengobatan herbal dipilih. Seorang pengobat di Kelapagading, Jakarta Utara, dikunjungi. Menurut sang pengobat, Tono harus meminum berbagai ramuan herbal. Salah satu di antaranya benalu teh. Sebungkus benalu itu dicuci bersh lalu direbus dalam 3 gelas air hingga mendidih dan tersisa segelas. Setelah dingin, air rebusan disaring untuk diminum 3 kali sehari masing-masing 1 gelas. Setelah 2 minggu mengkonsumsi belum ada perubahan, malah batuk darah dan mimisan, ujar Lita.

Tak kunjung membaik, dokter spesialis kanker di Rawamangun didatangi kembali. Kini apa pun yang disarankan dokter itu diterima. Dokter menyuruh ke Dharmais untuk menjalani terapi pengobatan, ujar Lita. Di sana Tono mesti menjalani kombinasi pengobatan dengan penyinaran dan kemoterapi. Katanya perlu 32 kali penyinaran sampai sembuh, ujar Lita.

Perubahan terjadi saat menjalani penyinaran ke-15. Tiba-tiba Tono didera rasa sakit yang amat sangat di pinggang. Tak tega melihat kondisi itu, Lita pun meminta dokter memberi obat penghilang rasa sakit. Obat itu diberikan lewat mulut dan dubur. Ia hanya efektif selama 12 jam setiap kali pemberian, tutur Lita.

Rasa sakit Tono membuat dokter curiga. Lita pun disarankan memeriksa Tono kembali. Hasilnya memang mengejutkan. Kanker itu sudah menyebar sampai pinggang. Dokter memutuskan Tono perlu menjalani 14 kali penyinaran lagi di bagian pinggang.

Saat itu kondisi Tono sudah jauh menurun. Bobotnya menyusut 30 kg, kulitnya kusam, dan rambutnya rontok. Air ludahnya kering, wajahnya menghitam, gusinya pecah-pecah sampai keluar darah, dan semua kaki tangannya bengkak, kata Lita.

Minum spirulina

Ketakutan kanker itu menyebar terbukti. Tak hanya di pinggang, tulang ekor pun kini digerogoti kanker. Tono mesti menjalani 17 kali penyinaran lagi. Dokter yang menanganinya mewanti-wanti agar kakak Lita tidak menginformasikan soal harapan umur penderita kanker. Dokter menyebutkan dengan kondisi itu usia Tono diperkirakan tidak sampai 3 bulan lagi, ujar Lita meniru ucapan sang kakak. Sambil terus menjalani terapi penyinaran, Lita meminta izin agar Tono diperbolehkan pulang. Saat itu Lita mengaku pasrah. Saran sepupunya untuk membawa Tono berobat ke Singapura ditolak secara halus. Biarlah saya merawatnya semampu saya, ujar Lita yang saat itu hanya bisa memberi asupan susu formula pada Tono.

Menjelang Natal pada 2002, teman dekat suami memintanya mencoba memberi spirulina. Siapa tahu bisa membuat badan anakmu sedikit kuat, tutur teman itu memberi beberapa sachet spirulina. Kebetulan pula spirulina cair itu berasa stroberi. Anak saya paling suka rasa stroberi jadi agak gampang memberinya, ujar Lita.

Spirulina itu diberikan rutin 3 kali sehari. Awalnya tubuh Tono seakan menolak. Saat diminum, tak lama cairan itu dimuntahkan lagi. Namun setelah mencoba 3 kali, tubuh Tono pun bisa menerima. Dua minggu mengkonsumsi tanda-tanda perubahan mulai terlihat. Kulitnya mulai kelihatan segar. Nafsu makannya timbul lagi, ujar Lita. Hampir 4 bulan rajin mengkonsumsi, kondisi Tono berangsur-angsur membaik. Wajahnya yang tadinya hitam mulai memutih kembali. Yang menggembirakan Lita, Tono sudah bisa berjalan normal meski agak tertatih-tatih. Kakinya masih sedikit bengkak, ujar Lita.

Setahun berlalu, Tono sudah tampak segar bugar. Bobotnya kembali normal seperti sediakala. Ia masih merasa cepat lelah saja, ujar Lita yang hingga kini terus mewajibkan Tono meminum 1 sachet spirulina setiap hari. Sekolahnya dulu sempat berhenti selama setahun sudah diteruskan kembali. Kalau lihat dia sekarang, saya kadang menangis karena tidak menyangka dia bisa membaik, tutur Lita.

Terbanyak ke-4

Merujuk data National Cancer Institute di Amerika Serikat, kanker nasofaring banyak terjadi pada ras Mongoloid yang tersebar di negara-negara Asia seperti Cina, Hongkong, Malaysia, Singapura, bahkan Indonesia. Kanker yang tumbuh di rongga belakang hidung hingga menyebar ke kelenjar leher dan otak itu bisa diturunkan secara genetis.

Menurut Profesor Dr Karmel L Tambunan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, kanker nasofaring kini menjadi salah satu kanker yang banyak penderitanya di tanahair. Penyebabnya diduga virus epstein barr. Virus itu juga ditemukan pada penyakit lain seperti herpes, ujar spesialis darah yang juga mendalami kanker itu. Salah satu pemicunya adalah makanan yang diawetkan dengan garam atau diasapkan.

Dalam paparan mengenai penyakit-penyakit kanker, Dr Gustav Quade dari Institute of Medical Biometry, Informatic and Epidemiology Universitat Bonn di Jerman menyebutkan pada stadium awal serangan kanker nasofaring tidak memberi gejala khas. Yang sering tampak hanya telinga berdenging, hidung mimisan atau tersumbat seperti pilek terusmenerus di salah satu sisi. Bila semakin parah, di leher, misalnya, akan tampak pembesaran getah bening yang terlihat seperti benjolan yang dialami Tono.

Satu-satunya pengobatan kanker yang bisa dilakukan dengan menjalani radioterapi dan kemoterapi, ujar Karmel. Pengobatan yang dilakukan pada Tono itu menurut Karmel sudah tepat. Meski demikian ia belum bisa menduga peran spirulina yang membuat kondisi Tono membaik. Mungkin membantu memperbaiki daya tahan tubuh saja, ujarnya. sumber majalah trubus.

Ganggang Lawan Radang Saraf Tepi

Tolong! Mendengar teriakan keras suaminya, Tresna Andini menghentikan kesibukan menyiapkan sarapan. Ibu 5 orang itu bergegas menghampiri asal suara. Ya ampun?, ia mendapati suaminya, Surya Agung, tergeletak lemas di kamar mandi sehabis berurin. Kaki dan tangan Surya Agung seperti lumpuh, sulit digerakkan. Anaknya, Dharma, membopong Surya ke tempat tidur. Itulah kejadian pada 22 Juni 2004 yang sulit dilupakan mereka.

Beberapa bulan sebelumnya, Surya sibuk mengurus adik perempuan yang terkena kanker rektum. Sebagai anak tertua dari 8 bersaudara, ia terdorong membantu kesembuhan adiknya. Hampir tiap hari selama Maret-Juni 2004, pensiunan Departemen Keuangan itu sibuk mencari obat-obatan alternatif. Tidak peduli siang atau malam hingga dini hari. Akibatnya, makan pun mulai tidak teratur. Sarapan pagi yang rutin dilakukan, ditinggalkan begitu saja. Letih dan lelah tidak dirasakannya. Saat itu pikirannya hanya tertuju pada kesembuhan adiknya.

Dua hari sebelum kejadian, 20 Juni 2004, Surya menunggu operasi adiknya. Namun, pada malam sebelum kejadian, ia merasa letih, meriang, badan ngilu, dan nyeri punggung. Gejala itu dianggapnya biasa. Beban pikiran yang menumpuk membuat rasa sakit itu diabaikannya. Tak ada keluhan apa pun keluar dari mulut pria kelahiran 27 Juli 1938 itu. Pagi hari ketika ingin berkemih, ia merasa kakinya lemas. Namun, Surya memaksakan diri dan terjadilah musibah itu.

Pagi itu, pukul 05.00, Tresna menghubungi dokter ahli saraf di rumahsakit yang berlokasi di Jakarta Pusat. Sayang, dokter praktek malam hari. Di rumah, mereka gundah gulana. Pukul 22.00, Surya menjalani sejumlah pemeriksaan. Diagnosis dokter: ia terkena radang saraf tepi. Lima hari di rumahsakit, kesehatan Surya pulih. Selama perawatan, ia diberi obat dalam bentuk injeksi dan tablet.

Jatuh lagi

Surya pulang dengan hati lega. Kesehatannya membaik sehingga bisa beraktivitas seperti semula. Namun, rupanya suratan tangan berkata lain. Dua hari berselang, ia jatuh dari pembaringan karena kakinya tiba-tiba lemas tidak bisa menopang tubuh. Itu sama seperti gejala yang dirasakannya dulu. Akhirnya Surya dibawa kembali ke rumahsakit.

Semakin hari, kondisi Surya bertambah parah. Ia hanya bisa terdiam di pembaringan. Kaki dan tangan terasa amat lemah. Terutama kaki kirinya. Napasnya terengah-engah sehingga perlu bantuan selang oksigen. Belum lagi keluhan sulit buang air besar yang berujung kesemutan.

Rasanya seperti menjalar ke seluruh tubuh, tutur Surya. Dari hasil pemeriksaan darah, ternyata virus cytomegalovirus (CMV) bersarang di tubuhnya.

Infeksi CMV biasanya tanpa gejala. Virus tinggal dalam tubuh tanpa menimbulkan kerusakan atau penyakit. Virus aktif pada orang dengan kekebalan tubuh lemah. Tulang belakang bisa matirasa terserang CMV. Bila serangan menjalar ke kaki, penderita kesulitan berjalan. Virus menyerang ketahanan tubuh Surya sehingga ia lemah, serasa lumpuh. Injeksi 100 cc diberikan untuk mengatasi virus.

Itu berlangsung selama 24 hari. Harga satu ampul cairan itu lumayan mahal, Rp750.000. Ditambah, 9 jenis tablet dan kapsul harus diasup setiap hari.

Akhirnya pengobatan alternatif ditempuh Surya. Suatu hari seorang kerabat menyarankan untuk mengkonsumsi spirulina. Untuk meyakinkan Surya dan Tresna diperkenalkan kepada Prof I Nyoman Kabinawa, peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi, LIPI. Atas penjelasannya, Surya mengasup spirulina dua kali sehari, pagi dan sore. Dosisnya 4 gram spirulina dilarutkan dalam segelas air, diminum sejam sebelum atau sesudah mengkonsumsi obat dokter.

Tanggal 26 November 2004, Surya mengecek darah ke laboratorium. Hasilnya, Surya bebas CMV. Virus enyah, tetapi ia tetap lumpuh. Dokter saraf menyarankan pemeriksaan thoraks. Ternyata ada keloid yang harus dioperasi. Januari 2005, ia menjalani operasi di tengah kondisi yang tak menentu.

Membaik

Setelah operasi, terapi sensorik dan motorik mulai dijalani Surya Agung. Enam bulan kemudian, Surya sudah mulai bisa berjalan meski masih terseok-seok dan menggunakan alat bantu. Namun, tetap belum sembuh total karena jari-jari kaki dan tangan masih kaku. Mungkin setahun lagi baru bisa berjalan, kata dokter seperti ditirukan Tresna.

Keinginan Surya bisa cepat berjalan normal sangat tinggi. Makanya, selain obat-obatan dokter, ia pun tetap mengkonsumsi 4 gram spirulina, 2 kali sehari. Usahanya berbuah manis. Kondisi kesehatannya berangsur membaik, sampai-sampai perawat di rumahsakit terheran-heran melihat kondisi Surya. Kok, Pak Made segar benar mukanya? kata Tresna, menirukan perkataan sang perawat. Dokter pun akhirnya membolehkan Surya menjalani perawatan di rumah sejak 1 Juli 2005.

Semakin hari kondisi Surya membaik. Badan menjadi fit, segar, katanya mantap. Keluhan kesemutan hilang, buang air besar pun lancar. Jari tangan dan kakinya kini bisa digerakkan. Sekarang Bapak bisa bangun sendiri, kata Tresna. Melihat kemajuan yang begitu pesat, Surya optimis dalam waktu singkat dapat berjalan normal kembali.

Antiviral

Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Itu peribahasa yang tepat untuk menggambarkan efek spirulina bagi Surya. Pria berusia 68 tahun itu mengalami radang saraf tepi atau neuritis. Saraf tepi adalah saraf selain susunan saraf pusat. Sejalan dengan penyakit Surya, spirulina berfungsi meningkatkan kekebalan tubuh, memperbaiki sel-sel rusak, dan mengenyahkan virus CMV. Alga itu kaya asam amino, zat besi, serat, dan B 12. Asam amino berfungsi memperbaiki sel-sel rusak dan meningkatkan kekebalan tubuh. Zat besi pun berperan membentuk sistem imun.

Spirulina mengandung vitamin B lengkap. Setiap 10 g spirulina mengandung vitanim B1 (thiamin) 0,31 mg, B2 (riboflavin) 0,35 mg, B3 (niacin) 1,46 g, B6 (pyridoxine) 80 mcg, dan B12 (cobalamine) 32 mcg. Vitamin B berperan membantu pembentukan sel darah merah, sumsum tulang, dan memperbaiki sistem saraf. Vitamin B12 dapat mengurangi risiko serangan jantung dan stroke. Ia merupakan koenzim penting dalam proses sintesis DNA terkait dengan kontrol pembentukan sel-sel baru.

Vitamin B12 mensuplai metabolisme selubung saraf tepi sehingga bagian yang mengalami kerusakan dapat diperbaiki, ungkap dr Satya Hanura, SpS, dokter spesialis saraf.

Jasad mikroskopis itu juga berperan sebagai antivirus CMV. Armida Hernandez-Corona, peneliti Departamento de Microbiologia, Escuela Nacional de Ciencias Biologicas, Meksiko, menyatakan, ekstrak spirulina bersifat antiviral. Efeknya, spirulina efektif menggerus virus human cytomegalovirus (HCMV), dengan dosis 0,142 mg/ml.

Serupa dengan hasil yang diungkapkan Hayashi dan rekan dari Fakultas Ilmu Farmasi, Toyama Medical and Pharmaceutical University, Jepang. Spirulina mampu menghambat replikasi virus human cytomegalovirus (HVMV). Efek antivirus spirulina berasal dari polisakarida sulfit bernama kalsium spirulan (Ca-SP). Ia secara selektif menghambat penetrasi virus ke sel inang.

Radang saraf tepi

Menurut Satya, gejala neuritis beragam tergantung saraf yang terkena, bisa saraf sensoris atau motoris. Jika yang terserang saraf sensorik, gejalanya berupa kesemutan, pegal, dan ngilu. Sedangkan, kalau saraf motorik yang diserang, gejala berupa kelemahan anggota gerak. Anggota tubuh masih bisa bergerak, tetapi kekuatannya sangat berkurang dibandingkan anggota tubuh yang tidak mengalami gangguan.

Penyebab neuritis berupa peradangan yang disebabkan infeksi atau inflamasi. Infeksi dapat disebabkan kuman, seperti bakteri atau virus. Penyembuhan dilakukan dengan pemberian antivirus atau antibakteri. Sedangkan inflamasi disebabkan karena peradangan steril yang disebabkan trauma atau gangguan sirkulasi darah yag dipicu faktor kekurangan zat gizi, pola hidup tidak sehat, gangguan metabolisme, atau terlalu lelah bekerja. Pada stadium awal radang saraf tepi, bagian yang rusak adalah selubung saraf yang disebut myelin. Jika selubung rusak, informasi ke otak atau ke jaringan tubuh tidak dapat diteruskan secara lengkap. Misalnya, untuk melalui rintangan, otak menerima instruksi untuk mengangkat kaki 30 cm. Pelaksanaannya, kaki hanya diangkat setinggi 20 cm sehingga kaki mengenai rintagan.

Bila dibiarkan, radang saraf tepi menjalar ke ujung saraf sehingga kerusakan yang diakibatkan lebih parah. Proses itu dikenal sebagai degenerasi walerian, ujar dokter yang bertugas di Rumahsakit Jakarta dan Rumahsakit Meilia, Cibubur itu. Akibat paling parah dapat menyebabkan kelumpuhan.

Itulah yang dikhawatirkan Surya. Makanya, hingga saat ini, konsumsi spirulina tetap dilakukan. Sementara obat dokter sedikit demi sedikit dikurangi. Dari 9 macam obat, sekarang hanya 5 obat saja yang dikonsumsi. Frekuensinya pun tidak serutin dahulu, cuma dua kali dalam sepekan. Dulu ia meminumnya setiap hari. Dua bulan terakhir, dosis spirulina ditingkatkan menjadi 8 g sekali minum. Kondisi badan pun kian terasa segar. sumber majalah trubus.

Ketika Salwa Tak Cuci Darah

Ini hasil riset yang mencengangkan: 20-juta penduduk Indonesia membawa gen penyakit talasemia. Mereka berpeluang mewariskan penyakit kelainan darah itu kepada keturunannya. Pasangan Tarkiman dan Siti Maryati di Cianjur, Jawa Barat, misalnya menurunkan penyakit itu kepada buah hati mereka, Salwa Wijaya.

Salwa Wijaya (3 tahun) tak seperti bocah seusianya yang tengah lucu-lucunya. Tubuh sulung 2 bersaudara itu kurus kering. Suhu tinggi kerap menghampirinya. Pertumbuhannya juga lambat. Ia baru dapat berjalan ketika usianya 2,5 tahun. Pada tahap itu Siti Maryati tak curiga bahwa anaknya mengidap talasemia. Ia hanya menduga, anaknya kurus kering lantaran enggan makan.

Ketika benjolan seukuran buah kedondong muncul di pinggang kiri perempuan itu, Siti bergegas ke dokter. Hasil diagnosis dokter, Salwa kelelahan. Siti tak puas hati atas diagnosis itu sehingga mendatangi dokter kedua. Ahli medis itu menyarankan agar Salwa menjalani tes darah. Ketika itu kulit Salwa pucat, perut membuncit, dan urine lebih gelap. Misteri itu terpecahkan di Rumahsakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Bocah kelahiran 5 Februari 1997 itu positif talasemia.

Benjolan di pinggang itu ternyata limpa yang membengkak. Organ itu membesar lantaran tak dapat menjalankan fungsinya membersihkan darah. Dokter mengatakan belum ada penawar alias obat talasemia. 'Hanya transfusi darah penyambung hidupnya,' kata Tarkiman mengulangi pernyataan dokter. Dua minggu sekali, Salwa harus menjalani transfusi sebanyak 2-3 kantong darah.

Transfusi

Di dalam tubuh pasien talasemia terjadi perubahan atau mutasi gen pembawa kode genetik untuk pembuatan hemoglobin. Akibatnya, kualitas sel darah merah tidak baik dan gagal bertahan hidup lama. Pasien talasemia mesti menjalani transfusi untuk meningkatkan kadar hemoglobin dalam tubuh. Tugas hemoglobin berfungsi mengikat dan membawa oksigen ke seluruh tubuh.

Kadar hemoglobin dalam tubuh rendah menyebabkan kelelahan, bahkan pingsan. Karena lama merawat Salwa, Siti akhirnya mengetahui kapan Salwa mesti menjalani transfusi darah. 'Tanda-tanda Salwa harus ditransfusi darah, bibirnya putih pucat, mimisan, lemas lunglai, dan tonjolan membengkak di pinggangnya,' kata Siti. Saat itu, kadar hemoglobin dalam darah Salwa hanya 6; kadar normal 12-16.

Setelah transfusi, hemoglobin hanya meningkat 1 angka, menjadi 7. Itu sebabnya tubuh Salwa masih tetap lemah. 'Saya hampir tak pernah mengikuti pelajaran olahraga,' kata Salwa yang kini berusia 10 tahun.

Titik terang kesembuhan datang pada Mei 2007. Saat itu seorang perawat di RSU Cianjur menceritakan ekstrak teripang untuk membantu mengatasi penderitaan anaknya.

Semula Tarkiman enggan memberikan ekstrak itu karena tidak yakin bisa menyembuhkan penyakit Salwa. Maklum, sebelumnya ia mencoba berbagai suplemen kesehatan anjuran rekan-rekannya, tetapi tetap gagal. 'Semuanya sudah dicoba, mulai dari jamu-jamuan sampai dengan pengobatan alternatif dengan mediasi, semuanya gagal,' kata Tarkiman.

Genetik

Suatu ketika pikiran Tarkiman berubah: tak ada salahnya untuk mencoba. Cairan kental itu dikonsumsi Salwa 2 kali satu sendok makan sehari. Dosis itu ditambah dengan 5 butir spirulina 2 kali sehari. Pekan pertama, Salwa tak lagi demam. Tiga pekan kemudian, hasil laboratorium menunjukkan kadar hemoglobin Salwa melonjak ke angka 10. Artinya, kesehatan Salwa berangsur normal.

Setelah 3 bulan mengkonsumsi, frekuensi transfusi darah berkurang dari 2 kali per bulan masing-masing 2-3 kantong menjadi 1 kali sebulan hanya 1 kantong. Walau begitu, kadar hemoglobin tetap ajek di atas angka 10. Bobot tubuh meningkat menjadi 28 kg, sebelumnya 20 kg. Pun, limpa Salwa, kini tak pernah membengkak. Perubahan itu menggembirakan keluarga Tarkiman.

Menurut Ketua Pusat Talasemia Indonesia, Prof Dr Iskandar Wahidijat SpA(K), talasemia adalah suatu penyakit genetik yang diturunkan dari kedua orangtua. Kedua orangtua secara klinis boleh saja terlihat sehat, walau sebetulnya salah satu gennya pembawa sifat penyakit itu. Nah, bila kedua gen itu bertemu, maka anak mereka akan mengidap talasemia. Hidup anak bergantung pada transfusi darah karena umur sel darah merahnya tidak panjang, hanya 1-2 bulan, normalnya 3-4 bulan.

Glukosaminoglikan

Lalu soal ekstrak teripang mengatasi talasemia? Itu bukan kebetulan belaka. Paulo Antonio de Souza Mourao dari Fakultas Biomedika, Universidade Federal Rio de Janeiro, Brazil, membuktikannya. Menurut Paulo, glukosaminoglikan dalam teripang mampu mengatasi tulang rapuh pada penderita talasemia mayor. Senyawa itu berefek memperbaiki aliran darah dan melancarkan cairan yang tersumbat.

Penggunaan teripang untuk penyakit talasemia dipatenkan oleh Yash Sharma P dari Houston, Amerika Serikat. Menurut Yash, yang paling berpengaruh adalah kandungan N-asam glikolineuraminat, merupakan permukaan sel asam sialat. Sialat terbentuk dari polisakarida, glikoprotein, dan glikolipida. Saat terjadi mutasi gen, asam glikolineuraminat hilang dari sel. Makanya, limpa yang membersihkan darah tak bekerja semestinya. Akibatnya, limpa membengkak seperti yang dialami Salwa di pinggang kiri. Penambahan spirulina berfungsi untuk meningkatkan kadar hemoglobin dalam darah.

Salwa Wijaya tak sendirian. Di Indonesia masih banyak pengidap talasemia lain seperti hasil riset Departemen Kesehatan: 6-10% dari penduduk Indonesia membawa gen penyakit talasemia. Mengkonsumsi ekstrak teripang salah satu cara mengatasi penyakit mematikan itu.sumber majalah trubus.

Mereka Musuh Bebuyutan Tumor

Kerap menyantap makanan berlemak dan berpengawet, sekaligus merokok? Jika itu menjadi gaya hidup, Anda tengah mengundang tumor. Kebiasaan itu membuat tubuh sulit mengurai dan mengendalikan senyawa dalam makanan berpengawet dan rokok. Dampaknya senyawa menjadi radikal bebas, perusak tubuh.

Itulah hasil penelitian Sugeng Juwono dari Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) Universitas Gadjah Mada. Penelitiannya menemukan sebanyak 1,43% dari 3.213 warga Desa Grujugan, Banyumas, Jawa Tengah, menderita tumor. Pengambilan acak 9 pasien menunjukkan 4 orang didiagnosis mengidap lipoma, 3 orang fibrodenoma, dan 2 orang kistaovaria. Diduga pencetusnya: lemak berlebih, keturunan, penggunaan obat nyamuk bakar dalam jangka waktu lama, dan juga makanan berpengawet.

'Makanan berlemak berefek pada penimbunan senyawa karsinogenik,' kata Dewata Dermawan, Ahli penyakit dalam, RS Internasional Bintaro, Tangerang. Makanan kaya lemak seperti daging, memicu prolaktin, hormon yang merangsang pertumbuhan tumor. Makin tinggi lemak dalam tubuh, sekresi hormon meningkat dan tumor kian terangsang tumbuh.

Bawah lutut

Salah satu tumor yang tumbuh akibat lemak berlebih adalah lipoma. Tumor berupa benjolan abnormal itu termasuk jinak dan berisi jaringan lemak. Bentuknya oval. Bila dipegang, bisa lunak, kenyal, atau keras. Meskipun jinak tak boleh dibiarkan tumbuh. Sebab, ukurannya bisa mencapai 10 kg dan menggantung dari kulit seperti buah. Jumlahnya pun bisa puluhan. Jenis tumor ini lebih banyak diderita wanita pada bagian lengan, batang tubuh, dan leher bagian belakang.

Lipoma di bagian belakang lutut menimpa Eva Yulinda, wanita yang hobi makan makanan bersantan. Wanita berdarah Sumatera Barat itu tak tahu asal-muasal dan waktu benjolan itu datang. 'Tiba-tiba saja sudah bulat sebesar telur ayam,' kata Eva. Awalnya, tumor di bawah kulit itu tak mengganggu sama sekali. Namun, ketika ia berjongkok, rasa nyeri memerih.

Hasil diagnosis dokter benjolan itu tumor jinak berupa endapan lemak yang disebut lipoma diffosa. Untuk menghilangkannya dilakukan penyedotan lemak atau pembedahan pengangkatan tumor.

Ketika bersiap untuk menjalani operasi, seorang teman menyarankan menjalani terapi pijat dibantu konsumsi herbal. Saran itu diikuti Eva. Sebab, temannya meyakini, belum tentu operasi pembedahan dapat mengangkat semua sel tumor yang menjalar. Hal itu juga diperkuat kesembuhan teman yang mengidap penyakit sama. Dua minggu sekali selama 5 bulan, Eva menjalani pengobatan itu, tetapi tak jua berujung sembuh.

Teripang

'Saya hanya dipijat badan. Saya takut jika benjolannya juga ditekan justru membesar,' kata ibu 3 anak itu. Setelah itu, Eva berpindah ke terapi pijat dan konsumsi jamu-jamuan lainnya. Rutinitas ini juga berakhir sama. Walau sudah setahun berlalu, tumornya tetap membesar.

Pengobatan alternatif kembali dicoba. Kali ini seorang rekan memberinya ekstrak teripang. Eva diharuskan untuk menghabiskan 2 botol berukuran 350 ml agar benjolannya mengempis. Untuk membuktikan perkataan rekannya itu Eva mulai mengkonsumsi jeli gamat-sebutan teripang di Malaysia-dengan dosis 2 kali 1 sendok setiap hari.

Dosis itu juga ditambah dengan spirulina 5 butir sehari. Setelah 2 bulan rutin mengkonsumsi, tonjolan itu hilang. 'Tak sadar, tiba-tiba saja sudah tidak ada dan hilang nyerinya,' kata wanita kelahiran 22 Februari 1959 itu.

Teripang mampu menjinakkan tumor alias bersifat antitumor berkat senyawa terpen bernama philipnoside. Hal itu dibuktikan oleh Tong Y dari Divisi Farmakologi Antitumor, Shanghai, China. Setelah mengisolasi senyawa saponin sulfat dari teripang, Tong menyuntikkan 2-10 mikroliter philinopside A pada aorta tikus. Senyawa itu terbukti mencegah pembentukan pembuluh darah mikro baru. Akibatnya, sel tumor tidak mendapat pasokan nutrisi sehingga sel urung berkembang dan akhirnya mati.

Menurut Wahyu Suprapto, dokter dan herbalis di Malang, Jawa Timur, tumor lemak di bawah lapisan kulit juga bisa diluruhkan tanaman herbal yang memiliki senyawa saponin alias triterpen. Herbal itu antara lain mahkota dewa, sambiloto, jahe, dan daun dewa. 'Ada banyak herbal yang bisa meluruhkan tumor dari kulit. Namun, yang paling penting pencegahan sedari awal agar tumor tak hinggap,' kata Wahyu. Itu bisa diperoleh dengan menjauhi makanan berlemak, olahraga, dan hidup tanpa mengisap rokok. sumber majalah trubus.

Musuh Bebuyutan Kolesterol

Singkong, pisang, bakwan, tahu, dan tempe goreng di piring dihidangkan dalam sebuah rapat. Di atas meja yang disusun seperti huruf U itu terdapat 6 piring camilan yang habis hanya dalam beberapa menit. Tujuh belas peserta rapat silih berganti mencomot gorengan yang lezat itu. Konsumsi aneka penganan gorengan itu secara berlebihan meningkatkan kadar kolesterol sekaligus meningkatkan risiko serangan jantung.

Maklum, kadar asam lemak penganan gorengan itu lumayan tinggi, mencapai 11,92%. Padahal, Rustika membuktikan konsumsi 1% asam lemak meningkatkan 2,17 mg/dl total kolesterol dan 2,38 mg/dl kolesterol 'jahat'. Periset Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan itu meneliti di Joharbaru, Jakarta Pusat, dengan responden 503 jiwa. Dampak penumpukan kolesterol adalah mempersempit arteri dan menyumbat aliran darah. Tahap berikutnya terjadi pengerasan pembuluh darah alias artarioskrosis.

Ketika plak pecah, retakan juga memicu pembekuan darah. Saat itulah terjadi serangan jantung dan stroke. 'Kadar kolesterol tinggi dalam darah merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskular, terutama serangan jantung,' kata Dr dr Budhi Setianto SpJP, ahli jantung Rumahsakit Harapan Kita Jakarta. Asal-muasal penumpukan kolesterol, ya konsumsi lemak. Salah satu contohnya kebiasaan menyantap pisang atau tahu goreng yang gurih itu.

Kombinasi

Setiap 1 g lemak menghasilkan 9 kalori sebagai sumber energi. Lemak itu kemudian diproses menjadi senyawa asetil koenzim-A yang membentuk asam lemak, trigliserida, fosfolipid, dan kolesterol. Kolesterol yang terbentuk adalah low-density lipoproteins (LDL) alias kolesterol jahat dan high density lipoproteins yang sohor sebagai kolesterol baik. LDL mengandung 75% kolesterol dan hanya sedikit protein, serta berfungsi mengalirkan kolesterol ke seluruh tubuh. Kelebihan LDL menyebabkan penumpukan lemak di dinding arteri.

Konsumsi makanan manis, bersantan, dan karbohidrat secara berlebihan meningkatkan kadar kolesterol. Menurut Persatuan Endokrinologi Indonesia, kadar kolesterol dalam darah normal maksimal 200 mg/dl; LDL, paling tinggi 130 mg/dl; HDL, lebih dari 45 mg/dl, dan trigliserida kurang dari 200 mg/dl.

Kolesterol tinggi itulah yang dialami oleh Simon Fenmart. Pria kelahiran Palembang, Sumatera Selatan, itu kerap mengkonsumsi makanan gorengan. Akibatnya, ketika usia mendekati setengah abad, tubuh tak lagi mampu menetralisir lemak yang tertumpuk dalam darah. Kepalanya kerap pusing. 'Sehabis tidur sulit membuka mata lantaran langit seperti berputar,' kata Simon. Setelah memeriksakan diri ke dokter, ia divonis mengidap kolesterol tinggi. Hasil tes laboratorium menunjukkan nilai kolesterolnya 240 mg/dl dan asam urat mencapai 7,0.

Setelah rutin mengkonsumsi obat dokter, kedua gangguan kesehatan pria 48 tahun itu berkurang. Namun, jika terlambat mengkonsumsi obat, gejala berupa kepala pusing, mata berkunang-kunang, dan mudah lelah muncul lagi. Itulah sebabnya ia tertarik mencoba suplemen berbahan teripang dan spirulina untuk memutus ketergantungan obat kimiawi. Simon rutin mengkonsumsi 2 sendok makan teripang 2 kali sehari. Selain itu ia juga menelan 5 butir spirulina sehari. Hasilnya? Seluruh keluhan itu hilang seperti dikokohkan oleh hasil tes laboratorium: nilai kolesterol 130 mg/dl dan nilai asam urat 5,5.

Alpukat

Perihal teripang tokcer menurunkan kadar kolesterol dibuktikan oleh Hsi-Hsien Liu. Periset National Chung-Hsing University, Taiwan, itu meneliti efek penurunan lemak alias hipolipidemik karena senyawa glikosaminoglikan. Senyawa itu terkandung dalam teripang Metriatyla scabra. Glikosaminoglikan alias GAGs teripang mengandung asam heksosamin dan heksuronat. Percobaan selanjutnya dilakukan terhadap tikus winstar berbobot 5 g, 10 g, 15 g, dan 20 g. Tikus-tikus itu diberi 1% kolesterol selama 6 pekan sehingga total kolesterol, LDL, dan bobot hati meningkat.

Kemudian tikus-tikus itu diberikan 20 mg glikosaminoglikan per kg bobot tubuh. Efeknya total kolesterol, LDL dan indeks atherogenik turun; HDL meningkat. Selain itu GAGs terbukti mencegah peningkatan trigliserida, kolesterol dan fosfolipid dalam hati. Sterol yang terdapat didalam teripang juga menurunkan kolesterol. Zat itu menghadang penyerapan kolesterol pada pembuluh darah manusia sebanyak 15%.

Selain teripang, konsumsi rutin alpokat mencegah peningkatan kolesterol. Buah Persea americana itu kaya antioksidan yang mencegah melonjaknya kolesterol. Bahan nabati lainnya, bawang merah dan bawang putih memiliki senyawa aktif ajoene, antikolesterol yang mencegah penggumpalan darah. Kedua sayuran bumbu itu salah satu pilihan untuk mengatasi kolesterol yang melambung. Beberapa siung umbi lapis anggota famili Liliaceae itu dapat dimakan segar. 'Dua siung bawang putih setiap hari, hindarkan tubuh dari kolesterol jahat, 'kata Lukas Tersonoadji, herbalis di Tangerang. sumber majalah trubus.

Penjemput Maut Bagi Kista

Noktah kecil itu cepat berkembang. Hanya dalam 3 bulan, titik merah berubah menjadi benjolan seukuran telur puyuh. Mengetahui benjolan di payudara kanan, keruan saja Yati Tuti Sumiyati gelisah. Dokter yang memeriksa perempuan 50 tahun itu mendiagnosis kista payudara.

Untuk mengatasi kista payudara itu, ahli medis menyarankan operasi. Namun, Yati Tuti Sumiyati menolak saran dokter. Sebab, rekannya yang mengidap kista payudara dan 4 kali menjalani operasi, ternyata tak kunjung sembuh. Yati berharap keajaiban, kistanya mengempis. Faktanya tanpa operasi kista itu membesar. Setahun berselang hasil ultrasonografi menunjukkan diameter kista mencapai 1,5 cm; sebelumnya 0,5 cm.

Ia memang memeriksakan ulang kista itu di sebuah rumahsakit di Bandung, Jawa Barat. Usai pemeriksaan dokter kembali menyarankan Yati untuk menjalani operasi. Kista merupakan kantong atau rongga tertutup berlapis epitel dan berisi cairan encer, kental, atau setengah padat. Kelainan itu terdapat di berbagai bagian tubuh. Itulah sebabnya penyebutan kista mengacu pada lokasi organ tubuh. 'Bila kista ada di ovarium disebut kista ovarium, jika di ketiak disebut kista aksial, jika di payudara disebut kista mamae,' kata dr Sidi Aritjahja, dokter sekaligus herbalis di Yogyakarta.

Kista pecah

Penyebab kista beragam seperti bawaan sejak lahir, perkembangan embriologik yang tidak normal, dan tersumbatnya saluran keluar sebuah kelenjar. 'Sumbatan kolesterol pada saluran tertentu menyebabkan sel-sel tumor tumbuh di tempat itu,' kata dokter alumnus Universitas Gadjah Mada itu. Menurut Sidi Aritjahja kista payudara biasanya berasal dari penyumbatan pada ductus atau saluran yang berada di kelenjar susu. Mutasi sel juga memicu kista. Kista lain dapat berbentuk tumor yang cukup besar, dan terdiri atas sel yang berbentuk lendir atau mukus. Lendir tersebut agak berbeda dengan cairan kista di rahim yang lebih cair atau disebut serous.

Makanan pantangan: makanan yang dibakar, diberi alas logam, langsung dibakar tanpa diberi minyak karena kesemua makanan itu mengandung zat karsinogen alias pemicu kanker. Gejala kista tidak tampak pada fisik seseorang, umumnya nyeri saat haid atau sering keputihan. Sidi menyarankan penderita kista untuk menghindari konsumsi makanan yang diragikan karena bisa merangsang neufas polarisasi atau merangsang pembuluh darah.

Di tengah kegalauan itu, suami Yati Tuti Sumiyati, Dikdik Tasdik, menyarankan untuk mengkonsumsi ekstrak teripang dan spirulina. Dikdik mempunyai teman yang mengidap kanker tulang dan sembuh setelah rutin mengkonsumsi ekstrak teripang dan spirulina. Pada Desember 2007, mulailah Yati menelan ekstrak-ekstrak itu. Dosis 1 sendok makan ekstrak teripang dan 10 tablet spirulina dengan frekuensi 3 kali sehari.

Sebulan berselang, pegal-pegal di pinggangnya mulai berkurang. Biasanya pegal itu ia rasakan pada pagi, siang, dan menjelang tidur. Setelah rutin mengkonsumsi ekstrak teripang-spirulina, pegal-pegal itu hampir tidak terasa. Tiga bulan berselang, benjolan di payudara itu merah dan membesar seperti bisul matang. 'Saya syok dan stres karena saya pikir penyakit itu menyebar,' kata perempuan kelahiran Mei 1958 itu.

Selain itu ia sulit bernapas, seperti ada benda berat menekan di atas dadanya. Tidur pun tak nyenyak. Meski demikian ia tetap melanjutkan konsumsi ekstrak teripang-spirulina. Sepekan kemudian darah mengalir deras dari benjolan itu. Kista pecah. 'Darahnya sangat banyak,' katanya. Dalam sehari, ia menghabiskan 2 boks kasa untuk mengelap darah yang menderas. Kejadian itu terus berulang hingga sebulan.

Filinopsida

Selain menyantap ekstrak teripang dan spirulina, Yati juga mengoleskan ekstrak teripang di bekas luka setiap kali usai pendarahan. Dalam 30 hari-sejak pendarahan pertama-luka pun mengering. Menurut Yun Guang Tong, periset Institut Materia Medika Shanghai, ekstrak teripang memang bersifat antikanker. Ekstrak itu mengandung saponin yang sohor sebagai filinopsida A.

Filinopsida A itu ampuh mencegah pembentukan pembuluh darah baru pada sel kanker atau tumor. Jika pembuluh darah baru terhambat, perkembangan sel kanker pun terhambat. Tong menguji praklinis dengan menyuntikkan 2-10 mikroliter filinopsida A pada aorta tikus. Dampaknya pasokan nutrisi bagi sel kanker terhambat dan akhirnya sel mematikan pun mati.

Spirulina juga berkhasiat serupa. J.E. Pinero Estrada dari Fakultas Farmasi, Universitas Madrid, Spanyol, mengatakan bahwa spirulina kaya antioksidan. Itu berkat kandungan 3 pigmen kaya protein yaitu fikosianin, klorofil, dan zeasantin. Fikosianin merupakan penunjang kesehatan hati dan ginjal. Zeasantin merupakan antioksidan pelindung mata, terutama saat tua. Sedangkan klorofil sebagai antioksidan bersifat antikanker dan antiracun.

Pendarahan akibat pecahnya kista cepat pulih berkat kandungan asam lemak dalam ekstrak teripang yang berperan terhadap pemulihan luka. Kepada Trubus Prof Zaiton Hassan, peneliti Departemen Ilmu Pangan Universitas Putra Malaysia, mengatakan teripang mengandung asam miristat, palmitat, almitoleat, stearat, dan oleat. Senyawa aktif lainnya adalah linoleat, arakhsidat, eicosapentaenat, beherat, erusat, dan docosahexaenat.

Kandungan asam eicosapentaenat (EPA) dan asam docosahecaenat (DHA) relatif tinggi, masing-masing 25,69% dan 3,69%. Faedahnya mempercepat perbaikan sel yang rusak. Hal itu ditambah dengan kandungan kolagen dalam ekstrak teripang mempercepat penyembuhan luka seperti yang dialami Yati Tuti Sumiyati itu. Perpaduan ekstrak teripang dan spirulina tak ubahnya maut bagi kista. sumber majalah trubus.

Selamat Berpisah dengan Mioma

Endang Sujiati ingat persis kejadian pada April 2007. Darah tak henti menetes sehingga ia mengira menstruasi. “Rasanya perut bagian bawah seperti diremas. Sakitnya seperti melahirkan,” kata ibu 3 anak itu. Lima hari lamanya ia harus bergelut dengan penderitaan itu.

Sang suami, Heri Haryadi, iba melihat kondisi Endang sehingga bergegas ke sebuah rumahsakit di Tanjungpandan, Provinsi Bangka Belitung. Usai memeriksa intensif, dokter mendiagnosis mioma berdiameter 7 cm di rahim Endang. Ahli medis itu menyarankan histerektomi alias pengangkatan kandungan agar mioma tak membesar.

Otot polos

Ia mencari opini kedua, berharap diagnosis pertama itu keliru. Sayang, dokter di sebuah rumahsakit di Jakarta mendiagnosis serupa. Perempuan kepala tata usaha Sekolah Menengah Kejuruan di Tanjungpandan itu pasrah. Baginya tak ada pilihan lain sehingga bersiap menjalani operasi.

Menurut dr Taufik Jamaan SpOG di Menteng, Jakara, mioma adalah tumor jinak jaringan otot. Acap kali mioma diartikan sebagai tumor jaringan otot polos rahim. Letaknya di organ reproduksi wanita. Jumlah reseptor estrogen pada jaringan mioma lebih tinggi dibanding jaringan otot kandungan sehingga mioma membesar. Bobotnya bervariasi dari beberapa gram hingga 5 kg. Tumor itu banyak menyerang perempuan dalam masa subur dan jarang terjadi setelah menopause.

Itulah yang terjadi pada Endang yang saat itu berusia 53 tahun. Sepuluh hari menjelang operasi, Endang menginap di rumah seorang kerabat. Ketika menunggu waktu operasi itulah sang kerabat menyarankan Endang untuk mengkonsumsi ekstrak teripang dan spirulina. Keduanya membantu penyembuhan seorang rekan dari mioma. Endang pun mengkonsumsi sesendok makan ekstrak teripang 3 kali sehari. Pada saat bersamaan ia juga menelan 10 tablet spirulina 3 kali sehari.

Dua hari berselang, Endang merasakan bagian bawah perutnya berdenyut lebih dari 3 kali. Setelah itu gumpalan-gumpalan darah berwarna hitam berdiameter 1—2 cm keluar. Endang semula kaget. Namun, sang kerabat meyakinkan bahwa itu mioma yang mulai digerus oleh ekstrak teripang. Endang pun melanjutkan konsumsi ekstrak teripang.

Urung

Pada hari ditentukan operasi, Endang berangkat ke rumahsakit. Namun, hasil pemeriksaan dokter menunjukkan diameter mioma mengecil, hanya 5 cm. Oleh karena itu ahli medis memutuskan operasi batal dan menyarankan Endang berobat jalan. Keputusan dokter itu makin meneguhkan nenek 6 cucu itu untuk meneruskan konsumsi ekstrak teripang dan spirulina.

Pemeriksaan pada April 2008, “Dokter menyatakan rahim saya sudah bersih dari mioma,” kata perempuan kelahiran 25 Oktober 1954 itu. Untuk menjaga kesehatan ia melanjutkan konsumsi 1 sesendok makan teripang dan 5 tablet spirulina per hari.

Bukti empiris itu sejalan dengan hasil riset AM Popov, peneliti di Institut Pasifik untuk Kimia Bioorganik Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia. Popov membuktikan teripang berefek sitotoksik alias pembunuh sel kanker berkat kandungan glikosida seperti echinosida A dan B, holotoksin A1, holothurin A dan B, serta curucumariosida G1. Glikosida merupakan senyawa alami yang bersifat antitumor dan antikanker.

Kandungan filinopsida A dalam teripang pun ampuh menekan pertumbuhan tumor. Musababnya filinopsida bersifat ant iangiogenesis al ias mencegah pembentukan pembuluh darah mikro baru. Akibatnya sel tumor gagal berkembang dan mati akibat tak mendapatkan pasokan nutrisi. Itu masih diimbangi oleh khasiat spirulina yang kaya antioksidan. Tak heran, mioma Endang urung berkembang dan tergerus hilang tak berbekas. sumber majalah trubus.