Senin, 05 April 2010

Spirulina Akhiri Sirosis

“Usia Anda tinggal 3 bulan.” Itulah vonis dokter yang mempercepat degup jantung Daniel. Hasil pemeriksaan dokter, Daniel positif sirosis hati. Sarjana kedokteran itu tak habis pikir dirinya mengidap sirosis. Maklum, ia tak pernah menderita hepatitis, penyakit yang lazim mengawali sirosis hati.

Diagnosis dokter benar-benar mencemaskan Daniel dan keluarganya. Apalagi dokter tak memberikan obat untuk mengatasi penyakit maut itu. Hanya vitamin dan suplemen yang diresepkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang anjlok.

Tak puas hasil pemeriksaan dokter di dalam negeri, Daniel diboyong ke salah satu rumahsakit di Jepang. Hasil diagnosis dokter mancanegara sama saja: sirosis dan mulai berkembang menjadi kanker hati. Untuk mencegah hal itu, dokter menyarankan agar hati yang sudah mengeras itu ditransplantasi alias dicangkok. Karena keterbatasan donor, hati yang rusak diganti dengan hati babon, sejenis primata.

Mendengar saran sang dokter, kontan saja Daniel sekeluarga menolak. Tak setuju dengan saran dokter di Jepang, Daniel diboyong ke Australia. Harapan sembuh kini ia sandarkan ke salah satu rumah sakit di Negeri Kanguru itu. Namun, lagi-lagi para dokter di sana menyarankan hal yang sama, yaitu pencangkokan hati. Serasa menemui jalan buntu, akhirnya Daniel kembali diboyong ke tanahair.

Maag

Penyakit ganas itu bermula dari rasa mual dan perih berhari-hari di perut Daniel. Sarjana kedokteran itu mengunjungi seorang dokter. Diagnosis sang ahli medis, Daniel mengidap maag. Mulai saat itulah—awal 1995—ia mengkonsumsi obat maag.

Meski berbulan-bulan mengkonsumsi obat maag, tak ada tanda-tanda membaik. Atas saran seorang rekan, alumnus salah satu perguruan tinggi di Semarang, Daniel meminum segelas susu kefi r per hari. Sayang, upaya itu tak membawa kesembuhan.

Setahun berselang, rasa mual yang diderita Daniel menghebat. Tak hanya itu, ia juga merasakan nyeri di ulu hati dan sering buang air besar. Nafsu makan hilang. Dalam hitungan pekan, bobot tubuh pria 57 tahun itu anjlok hingga 21 kg. Karena kekurangan nutrisi, Daniel kerap tak sadarkan diri. Ia tak bisa mengenali orang-orang di sekitarnya.

Melihat gejala itu, Daniel dibawa ke Rumah Sakit Elizabeth, di Semarang oleh istri dan Yohan, salah seorang anaknya. Hasil diagnosis dokter, pendarahan lambung. Karena penasaran, dokter pun melanjutkan pemeriksaan dengan alat pemindai ultrasonografi . Daniel terkena sirosis hati. Kadar SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase) mencapai 279 U/L dan SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) mencapai 160 U/L. Jumlah itu sangat tinggi dibanding kadar normal SGOT: 53 U/L dan SGPT: 0—41 U/L.

Spirulina

Rupanya kisah penderitaan Daniel tersiar hingga ke salah satu kolega di Th ailand. Dari sana rekannya mengirim sebotol kapsul spirulina berisi 100 kapsul. “Saya sudah tahu khasiat spirulina, tapi belum pernah mencobanya,” ujarnya. Karena berhasrat sembuh, ia pun rutin mengkonsumsi 10 kapsul berwarna hijau tua itu per hari.

Sebulan kemudian, kondisi Daniel membaik. Rasa mual perlahan sirna dan nafsu makannya mulai bangkit. “Semula saya hanya makan pisang. Ketika itu saya mulai bisa makan nasi,” kenangnya. Vonis dokter bahwa usianya pendek rupanya tidak terbukti.

Enam tahun Daniel bergelut dengan sirosis, selama itu pula ia mengkonsumsi spirulina. Penasaran dengan usia panjang yang diperolehnya, pada 2002 ia mencoba memeriksakan diri ke Rumah Sakit Elizabeth, yang dulu pernah merawatnya. Setelah diperiksa tes darah, hasilnya mencengangkan. Pada sampel darah Daniel tak satu pun ditemukan sel kanker.

Berisiko

Sirosis adalah kondisi jaringan hati yang sehat digantikan oleh jaringan parut, seperti keloid yang sering terbentuk pada bekas luka. Aliran darah menuju hati terhambat. Akibatnya, fungsi hati terganggu. Padahal, hati berfungsi menetralisir racun dalam darah, membentuk senyawa yang berperan dalam kekebalan tubuh, dan memusnahkan kuman dari darah.

Menurut Prof Dr H Nurul Akbar SpPDKGEH, ahli hepatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, sirosis tak hanya membayangi penderita hepatitis kronis. Mengkonsumsi makanan berbahan pewarna dan pengawet makanan beracun turut memicu sirosis. Penyebab lainnya yakni kurang gizi dan konsumsi alkohol.

Penderita sirosis hati biasanya mengalami gangguan produksi energi. Sebab, hati tak mampu mengubah glukosa menjadi glikogen. Oleh sebab itu, diperlukan sumber energi lain yakni protein. Protein yang dapat digunakan adalah asam amino rantai cabang yang lazim terdapat pada protein nabati. Pasien penyakit hati paling baik mengkonsumsi tahu dan tempe. Sumber protein hewani seperti daging, telur, dan ikan, kurang baik lantaran mengandung asam aromatik yang menghasilkan amonia. Kadar amonia berlebihan menyebabkan koma hepatik.

Disarankan dokter

Dokter Suhenry Sastranegara, di Green Garden, Jakarta Barat, menyarankan mengkonsumsi spirulina kepada para pasien, khususnya penderita sirosis. Menurutnya, kandungan protein nabati spirulina 1,6 kali lebih tinggi ketimbang tempe. Hasil penelitian menyebutkan, 5,98% senyawa arginin dalam spirulina membantu detoksifi kasi—penetralan zat beracun—pada sirosis hati dan fatty liver.

Keampuhan spirulina memperbaiki kinerja hati telah dibuktikan K Morita dan T Matsueda, dari Fukuoka Institute of Health and Environmental Studies, Fukuoka, Jepang. Seperti dikutip Japan Journal Toxicology Environmental Health, mereka meneliti peningkatan kadar polychlorinated dibenzo-p-dioxins (PCDDs)—polutan pemicu kanker yang larut dalam lemak— pada feses tikus jantan.

Tikus percobaan itu diberi makanan yang mengandung 20% klorela, 20% spirulina, 2% klorofi lin, dan 2% klorofi lin ditambah 10% nasi beras tumbuk. Lima hari kemudian, tikus diberi asupan minyak bekatul yang terkontaminasi PCDDs dengan dosis 0,5 ml/4 g bobot tikus.

Setelah lima hari, kadar PCDDs feses tikus dianalisis dengan kromatografi gas beresolusi tinggi dan spektometer massa. Hasilnya, kadar PCDDs pada feses tikus yang diberi makanan yang mengandung 20% klorofi l, 20% spirulina, dan 2% klorofi lin, masing-masing 7,4, 7,1, dan 11 kali lebih tinggi ketimbang kontrol. Itu pertanda, kinerja hati tikus membaik sehingga mampu menetralisir PCDDs dan membuangnya lewat feces.

Bukti itu memperkuat dugaan Suhenry bahwa spirulina membantu proses detoksifi kasi. Zat beracun penyebab sirosis, perlahan terkuras. Memang cara kerjanya membutuhkan waktu 6 tahun. Meski begitu, toh usia Daniel lebih panjang dari dugaan dokter. sumber majalah trubus.

Hadang Stroke dengan Spirulina

Adzan Subuh berkumandang. Soleh Ismail membangunkan Rahmalina untuk sholat Subuh berjamaah. Namun, betapa kagetnya Soleh, istrinya itu tak bisa bangkit dari pembaringan. Tubuh perempuan 66 tahun itu tak bertenaga. Meski Soleh membantunya, Rahmalina tetap tak bisa bangun. Ia benar-benar kehilangan kekuatan. Pagi itu juga Rahmalina dilarikan ke rumahsakit.

Kejadian berawal pada suatu hari, pertengahan April 2006. Suara adzan Magrib sore itu disambut Rahmalina dan Soleh dengan berbuka puasa. Kolak pisang yang tersaji di meja menggoda selera untuk disantap. ‘Jangan, itu manis,’ Soleh melarang Rahmalina yang berniat mencicipi kolak. Itu karena riwayat penyakit diabetes yang disandang Rahmalina. Namun, ibu 6 anak itu nekat mencicipinya sebanyak 2 sendok.

Tak disangka manisnya kolak berbuntut penderitaan. Itu persis Rahmalina alami pada 2005. Setelah mencicipi kolak, 15 hari akhirnya ia dirawat di rumahsakit. Kini, pengalaman itu terulang. Kadar gula Rahmalina melonjak 575 mg/dl; kadar gula normal setelah makan 110-160 mg/dl. Efeknya, menyerang ke bagian saraf, seluruh tubuhnya terasa lemas. ‘Ngga kuat bangun, rasanya lemas tak bertenaga,’ kata Rahmalina.

Dokter di rumahsakit di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, tempatnya dirawat, menyatakan Rahmalina mengalami penyempitan pembuluh darah di kepala. Selama opname, perempuan kelahiran Padang itu kerap disuntik insulin. Tak ketinggalan obat-obatan dalam bentuk kapsul dan cairan diasupnya. ‘Sampai bosan saya makan obat dan disuntik,’ keluh Rahmalina.

Toh kesembuhan bagai api jauh dari panggang. Kondisi nenek 6 cucu itu tak ada perubahan berarti. Sehari-hari ia hanya tergolek di ranjang rumahsakit. Karena harapan sembuh kecil, pihak rumahsakit merujuknya ke rumahsakit Pertamina, Mayestik, Jakarta Selatan. Di rumahsakit itu pun ia hanya bertahan 3 hari karena alasan tak ada kemajuan. Perempuan yang hobi memasak itu juga bosan dengan jarum suntik. ‘Saya tidak tahan lagi disuntik terus-terusan,’ kata Rahmalina.

Kembali berjalan

Pihak keluarga terus berupaya menyembuhkan penyakit Rahmalina. Beberapa ahli pengobatan alternatif disambangi, tetapi tetap tak ada hasil. Hingga suatu hari, Frans, putra Rahma, memberinya spirulina atas saran seorang teman. Menurut temannya, kandungan ganggang hijau biru itu dipercaya dapat mengurangi gejala beragam penyakit tanpa efek samping. Tanpa pikir panjang, 5 butir spirulina diasupnya rutin 3 kali sehari.

Dua minggu mengkonsumsi spirulina, perubahan mulai terlihat. ‘Saya sudah bisa duduk,’ kata wanita murah senyum itu. Sebelumnya, menahan bobot tubuh saja tak mampu sehingga ia sering jatuh lemas bila duduk tanpa penyangga. Sebulan kemudian, perubahan makin kentara. Ia mulai bisa berjalan meski sambil berpegangan. Wajahnya pun terlihat cerah dan segar. Anak keempat yang tinggal bersamanya pun melihat perubahan itu. ‘Alhamdulillah, mama sudah sehat,’ kata Rahmalina menirukan ucapan Frans.

Sejak itulah kadar gula Rahmalina terkontrol karena rutin mengkonsumsi spirulina. Hasil tes laboratorium kadar gula darah 155 mg/dl. Dengan kadar gula sebesar itu ia merasa sehat wal-afiat. Padahal sebelumnya ia membayangkan betapa menderitanya jika badannya tak bisa digerakkan sama sekali.

Radikal bebas

Kelumpuhan yang dialami Rahmalina bukan stroke. Stroke hanya menyerang sebagian anggota badan. Misalnya kaki dan tangan kiri saja, anggota tubuh bagian kanan tetap berfungsi. Sedangkan Rahmalina merasakan kedua tangan dan kakinya lemah, lebih tepatnya disebut arteriosklerosis.

Arteriosklerosis merupakan penyempit-an pembuluh darah karena adanya penyumbatan, penebalan, atau kurang lenturnya dinding arteri. Pada kondisi itu, bahan lemak terkumpul di bawah lapisan sebelah dalam dari dinding arteri. Menurut dr H. Arijanto Jonosewojo, SpPD, spesialis penyakit dalam RSU dr Soetomo Surabaya, pada penderita diabetes, darah mengental bisa mengakibatkan pembuluh darah tersumbat sehingga terjadi arteriosklerosis.

Penyumbatan dapat terjadi di berbagai bagian tubuh: otak, jantung, ginjal, organ vital lain, lengan, dan tungkai. Jika terjadi di otak, arteriosklerosis berisiko menimbul-kan stroke iskemik. Stroke iskemik berarti tidak berfungsinya jaringan otak lantaran kurangnya darah yang membawa oksigen ke sana karena adanya penyumbatan pembuluh darah.

Radikal bebas menyebabkan arteriosklerosis. Spirulina mengandung antioksidan, seperti betakaroten, zeaxantin, fikosianin, asam amino, dan superoksida dismutase (SOD), yang berfungsi menetralisir reaksi radikal bebas. SOD berperan dalam melawan radikal bebas dengan mengurangi bentuk radikal bebas superoksida. Sementara betakaroten dan zeaxantin, mampu menghambat hidrogen peroksida.

Kandungan tokoferol (vitamin E) sebanyak 190 mg/kg pada spirulina juga membantu melawan pembentukan gumpalan darah. Penelitian Tom Saldeen MD, PhD, FACC dari Department of Forensic Medicine, University of Uppsala, Uppsala, Swedia, menunjukkan aktivitas antioksidan vitamin E mampu menurun-kan platelet agregasi dan menekan pembentukan gumpalan darah dalam pembuluh darah.

Rahma juga memperoleh manfaat penurunan kadar gula darah dari spirulina. Efek spirulina itu dibuktikan oleh Uliyar Mani, PhD dan rekan yang melakukan studi klinis pada 15 penderita diabetes. Hasil penelitian Department of Foods and Nutrition, M S University of Baroda, Gujarat, India, itu menunjukkan adanya penurunan gula darah secara signifikan setelah penderita diabetes mengasup spirulina 2 gram/hari selama 21 hari. Selain itu, asam gamma linolenik dalam alga itu berfungsi menurunkan kadar lemak dalam darah. GLA membentuk fospolipid membran sel mencegah terbentuknya asam lemak jenuh. sumber majalah trubus.

Mag Kronis sang AmtenarBerakhir Manis

Beginilah kesibukan Syamsul Bachrie setiap hari. Pukul 06.00 ia meninggalkan rumah di Hila-hila, Kecamatan Bontotirto, Kabupaten Bulukumba, untuk mengunjungi minimal 3 Sekolah Dasar. Jarak antarsekolah puluhan kilometer. Sebagai pengawas Dinas Pendidikan, Syamsul juga merancang dan memantau berbagai kegiatan siswa SD se-Bulukumba.

Hanya itu? Menjelang sore, Syamsul Bachrie memacu kendaraannya ke Makassar dengan waktu tempuh 3,5 jam. Di kota Angin Mamiri itu ia melanjutkan pendidikan untuk meraih gelar sarjana. Kuliah di Fakultas Ilmu Pendidikan berlangsung 4 hari sepekan. Ia baru meninggalkan kampus Universitas Hasanuddin pukul 20.00 dan tiba di rumah pukul 23.30. Begitulah saban hari aktivitas Syamsul: pergi pagi dan pulang menjelang hari berganti.

Kesibukan itulah yang membuat amtenar alias pegawai negeri itu kerap lupa makan. Angin malam yang menerpa dan kondisi perut kosong membuat Syamsul sering merasa nyeri. Jika demikian, pria 48 tahun itu menelan pil antinyeri. Dua tahun lamanya ia menjalani kehidupan itu. Pada suatu pagi media Agustus 2004 ia hendak berangkat kerja. Namun, tibatiba perutnya melilit tak karuan. Terpaksa ia berbaring di kamarnya sambil berharap agar lilitan perut itu segera berakhir. Kenyataannya, jangankan mereda, sakitnya malah menjadi-jadi. Ia berguling-guling menahan nyeri. Kepala pening. Oleh istrinya, Bau Dahnia, ia disuapi beberapa sendok nasi. Namun, tak lama berselang, Syamsul muntah.

Hari itu juga ia memeriksakan diri ke dokter. Hasil diagnosis, Syamsul mengidap mag kronis dan hipertensi. Soal sakit mag, Syamsul sudah menduganya. Hipertensi? Ia tak pernah menyangka. Tekanan darahnya melonjak 180 mmHg, idealnya 140 mmHg.

Langganan rumahsakit

Sejak itu Syamsul mudah jatuh sakit. Sedikit saja terkena hujan, demam mendera. Tidur pulas pun menjadi mahal. Ia kerap terjaga menahan rasa sakit di perut. Jangankan beraktivitas seperti biasa, mengangkat tubuh dari tempat tidur pun sulit. “Bobot tubuh saya turun 20 kg dari 80 kg dalam 2 tahun,” kata pria setinggi 170 cm itu. Penyebabnya, kekurangan cairan dan zat gizi.

Ia sempat menjalani perawatan di rumahsakit selama sepekan. Berbagai jenis obat-obatan kimia dikonsumsi dan Syamsul disarankan dokter disiplin makan. Makanan serta minuman pemicu asam lambung dihindari, misalnya kopi, makanan berlemak, mengandung cuka, lada, dan bumbu menyengat.

Pulang dari rumahsakit, Syamsul kembali beraktivitas seperti semula. Namun, sebulan kemudian mag sekaligus hipertensinya kembali kambuh. Lagi-lagi ia harus masuk rumahsakit. Bahkan ejak itu setiap bulan Syamsul menjadi pelanggan tetap rumahsakit.

Syamsul heran, obat dokter yang diminumnya selama ini tak membuahkan hasil sama sekali. Tak ingin berlama-lama menderita, Syamsul mencoba berbagai alternatif pengobatan. Saran seorang teman untuk mengkonsumsi bawang putih dan rimpang kunyit muda segar dijalani. Satu siung Allium sativum dan satu jari telunjuk Curcuma domestica dimakan berbarengan dengan sepiring nasi. Hasilnya, rasa sakit untuk sementara hilang. Namun, bila mantan kepala sekolah itu tidak mengontrol pola makan, rasa sakit kembali mendera. Tak heran, dalam 2 tahun bobot tubuh Syamsul menyusut 20 kg tinggal 40 kg.

Spirulina

Jalan kesembuhan terkuak saat Yuna, adik sepupunya, memberikan informasi tentang keampuhan spirulina mengobati mag dan hipertensi. Mulailah Syamsul mengkonsumsi 2 kapsul spirulina 2 kali sehari. Sebelum mengkonsumsi ganggang biru itu, Syamsul menelan makanan meski sedikit. Anehnya, pekan pertama Syamsul malah demam tinggi, sesak napas, dan sakit pinggang. “Itu tanda adanya respon dari tubuh, spirulina mendetoksifi kasi racun yang ada,” kata Yuna kepada Syamsul.

Penjelasan sepupunya itu diterima sehingga Syamsul melanjutkan konsumsi spirulina. Betul, setelah itu berangsurangsur kondisinya membaik. Perut lebih ringan dan pencernaan lancar. Kini bobot tubuhnya meningkat 18 kg menjadi 58 kg. Tekanan darahnya pun kembali normal.

Kesembuhan Syamsul memperkuat bukti penelitian para ahli gizi di dunia tentang keampuhan spirulina mengatasi mag dan hipertensi. Salah satunya Tsuchihashi dari Chiba Hygiene College, Jepang. Ia menunjukkan konsumsi 5% spirulina selama 100 hari meningkatkan 327% populasi Lactococcus lactis, Streptococcus thermophilus, Lactobacillus casei, Lactobacillus acidophilus, dan Lactobacillus bulgaricus pada usus tikus.

Jumlah itu tiga kali lipat dibanding tikus tanpa konsumsi spirulina. Kelima jenis bakteri asam laktat itu terbukti mampu memperbaiki pencernaan dan penyerapan makanan, mencegah infeksi, dan merangsang sistem kekebalan tubuh.

Yang juga melakukan penelitian adalah V Fica dari Clinica II Medicala, Spitalui Clinic, Bukares, Rumania. Fica memberi tablet spirulina kepada 21 penderita kerusakan lambung dan pankreas. Hasilnya, bobot tubuh dan jumlah protein mereka meningkat.

Zat paling berpengaruh dalam spirulina adalah klorofi l, molekul hijau yang terdapat pada tumbuhan. Klorofi l melepaskan ion ketika mendapatkan sinar matahari. Ion-ion bebas itulah yang digunakan untuk merangsang berbagai proses kimia dalam pembentukan protein, vitamin, dan gula. Seluruh zat gizi itulah yang juga memperbaiki produksi asam lambung dan luka lambung.

“Asam lemak GLA (gamma linoleic acid) juga berpengaruh,” kata Prof I Nyoman Kabinawa. Menurut peneliti LIPI itu, GLA spirulina berfungsi merangsang hormon prostaglandin. Hormon itu berfungsi mengontrol berbagai fungsi esensial tubuh. Prostaglandin PGE-1 terlibat dalam beberapa tugas pokok tubuh: pengaturan tekanan darah, sintesis kolesterol, infl amasi, dan pembelahan sel.

Kendalikan stres

Menurut dr H Arijanto Jonosewojo, ahli penyakit dalam RSUD Dr Soetomo Surabaya, saraf di otak berhubungan dengan lambung, sehingga bila mengalami stres dapat memicu ketidak seimbangan atau perubahan. Perubahan itu merangsang sel-sel lambung dan hormon kortisol, memproduksi asam lambung. Jika produksi asam lambung berlebih, lambung nyeri, perih, dan kembung. Lama-kelamaan dinding lambung terluka.

Prof dr Walujo Soerjodibroto MSc PhD SpG, pakar gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menuturkan gangguan lambung dapat berupa gastritis dan tukak lambung. Disebut gastritis bila belum terjadi luka pada dinding bagian dalam lambung. Sedangkan bila terdapat luka disebut tukak lambung atau koreng lambung.

Pola makan tidak teratur menjadi salah satu penyebab gangguan itu. Lambung secara terpola memproduksi asam lambung untuk mencerna makanan agar bisa diserap tubuh. Asam lambung diproduksi lebih banyak pada saat seseorang akan makan.

Ketika tidak ada makanan yang masuk ke lambung, asam lambung tidak terpakai. Akibatnya terjadi kelebihan asam lambung yang menyebabkan erosi pada dinding lambung.

Selain memicu hormon kortison yang merangsang asam lambung, stres juga mengaktifk an pusat-pusat motorik di otak sehingga merangsang pengeluaran zat ACTH (adrenocortical realizing factor). Respons jantung terhadap zat itu adalah peningkatan tekanan darah yang mengakibatkan hipertensi, bertambahnya denyut jantung dan kebutuhan oksigen.

Spirulina sebagaimana hasil studi klinis Lopez dan Romero dari Medicina Holistica, Spanyol, aya akan GLA yang mampu menanggulangi penyakit akibat stres, penyakit jantung, depresi mania, schizofrenia, kegemukan, dan defi siensi zat besi. Wajar jika Syamsul Bachrie kini tak mau meninggalkan spirulina. Setiap kali pergi, di kantongnya selalu terdapat kapsul spirulina. Praktis walau tugasnya bertambah, kepala pusing, mag dan hipertensi tak mau mendekat. sumber majalah trubus.

Minggu, 04 April 2010

Spirulina: Tumbuhan Laut Penggempur Penyakit

Serangkaian pengobatan dilakukan untuk mengatasi penyebab bersarangnya penyakit di tubuh pria berusia 22 tahun itu. Namun, tetap tak memberi hasil memuaskan. Tiga bulan mengkonsumsi neometrasol, obat kimia untuk pengidap hipertiroid, hanya mengembalikan nilai tiroksin T3 dan T4 ke ambang normal yaitu 0.51-1.65 ng/dl dan 4.4-12.0 ug/dl. TSH, penanda aktivitas kelenjar tiroid tak juga menanjak.

Itu sebabnya tubuh Adi kerap pingsan, cepat lelah, suhu badan tak stabil, dan sering buang air kecil. Degup jantung saya lebih kuat dan cepat, kata Kurniadi.

Lantaran bosan dengan penyakitnya, 4 bulan berselang ia beralih mengasup makanan tambahan spirulina atas anjuran kerabatnya. Hasilnya, TSH perlahan meningkat mulai 0,06 mIU/L pada bulan pertama dan 0.57 mIU/L setelah 3 bulan konsumsi. Itu artinya normal karena berada pada interval 0.47-5.01 mIU/L. Pasien hipertiroid cenderung membutuhkan asupan antitiroid, vitamin dan mineral penunjang kesehatan, kata Dr Muhilal, ahli gizi di Bogor. Vitamin dan mineral berfungsi membantu memperlancar sekresi hormon peningkat kekebalan serta membersihkan racun dalam ginjal yang menghambat keseimbangan hormon tiroid dalam darah.

Kaya vitamin dan mineral

Menurut USDA, spirulina memiliki kandungan lengkap vitamin dan mineral. Carlos Jimenez dari Department of Ecology, Faculty of Sciences, University of Malaga, Spanyol menemukan kalsium spirulina 3 kali lebih tinggi dibanding susu hewani, zat besi 3 kali lebih besar dibanding bayam. Tidak salah bila suku Aztec memanfaatkan spirulina sebagai makanan sehari-hari untuk menjaga kesehatan. Ia efektif meningkatkan stamina dan sistem kekebalan tubuh.

Alga berwarna hijau kebiruan itu awalnya hanya diketahui sebagai penurun kolesterol. Pengujian ilmiahnya dilakukan oleh Nayaka dari Tokai University, Jepang. Sebanyak 30 pria sehat berkolesterol tinggi dan hiperlipidemia yang diberi asupan spirulina menunjukkan penurunan 4,5% jumlah serum kolesterol, trigliserida, dan LDL. Mereka mengkonsumsi 4,2 gram spirulina selama 4 minggu tanpa mengubah pola makan.

J. E. Piero Estrada dari Departament Farmakolog, Fakultas Farmasi, Universitas Madrid, Spanyol mengungkap spirulina kaya antioksidan lantaran kandungan 3 pigmen kaya protein yaitu phykosianin, klorofil, dan zeasantin. Phykosianin, antioksidan larut air, penunjang kesehatan hati dan ginjal. Zeasantin, antioksidan pelindung mata terutama saat tua. Sedangkan klorofil, antioksidan bersifat antikanker dan antiracun.

Antivirus

Selain antikanker dan antiracun, penelitian Laboratory of Viral Pathogenesis, Dana-Farber Cancer Institute and Harvard Medical School, Massachusetts, Amerika Serikat pada 1996 membuktikan, spirulina dalam konsentrasi 5-10 g/ml mampu menghambat pembelahan sel HIV-1. Itu disebabkan spirulina memiliki kandungan kalsium spirulan, molekul polimerisasi gula berisi kalsium dan sulfur. Konsumsi spirulina terbukti memberikan masa hidup lebih lama pada pasien AIDS.

Sedangkan Armida Hernandez-Corona dari Departamento de Microbiologia, Escuela Nacional de Ciencias Biologicas, IPN, Meksiko, menunjukkan ekstrak spirulina memiliki sifat antiviral. Ia efektif melawan virus herpes simpleks tipe 2, pseudorabies virus (PRV), human cytomegalovirus (HCMV), dan HSV-1, dengan dosis efektif (ED50) masing-masing sebesar 0,069, 0,103, 0,142, dan 0,333 mg/ml.

Karena manfaat yang luar biasa, Arthrospira platensis kini banyak dibudidayakan di seluruh dunia. Berjuta-juta pil spirulina pun telah diproduksi lantaran terbukti menghadang dan menggempur berbagai penyakit. Termasuk Kurniadi yang telah merasakan keampuhannya. sumber majalah trubus.

Tekanan Darah

Darah rendah tak pernah enyah dari tubuh Ice Dahriani (37 tahun). Tekanan darahnya tak pernah beranjak dari 90/60 mmHg. Idealnya, 120/80 mm/ Hg. Wajar bila pegawai bank swasta nasional itu kerap letih dan pusing. Atas saran suami, Ice mengkonsumsi 9 tablet spirulina 3 kali sehari. Sepekan berselang ia mengecek tekanan darahnya. Tumben normal, katanya. Ibu satu anak itu merasa lebih bugar dan fit. Itulah sebabnya ia meneruskan konsumsi spirulina.***

Mimisan

Mimisan disertai kepala pusing kerap mendera Stevie Mario sejak duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Hasil pemindaian menunjukkan, terjadi penyumbatan urat saraf. Vilania, sang ibu, memberikan spirulina 30 ml 3 kali sehari. Hanya dalam sebulan, mimisan itu berhenti hinggi kini saat usia Mario 14 tahun. Memang semula Vilania kaget mendapati darah beku keluar dari lubang hidung. Namun, sejak itu Mario sembuh mimisan.***

Pusing

Dokter memberi 40 jahitan di kepala Lina Liwan beberapa saat setelah tabrakan mobil di Pontianak, Kalimantan Barat. Pada penghujung senja, setahun lampau ia mengalami kecelakaan. Hingga luka itu sembuh, pusing-pusing tak kunjung sirna. Kalau lihat langit-langit, seperti berputar-putar, kata wirausahawan di Pontianak itu. Frekuensi pusing beberapa kali sehari. Atas saran seorang kerabat, ia akhirnya mengkonsumsi spirulina 2 sachet 2 kali sehari. Sepekan berselang, pusingnya berkurang dan hilang sama sekali setelah sebulan rutin minum spirulina. sumber majalah trubus.

Penjinak Radiasi

Bencana mahadahsyat itu 20 tahun telah berlalu: ledakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Chernobyl. Namun, dampaknya tak juga terkubur oleh perjalanan panjang sang waktu. Setidaknya 9 anak meninggal karena kanker thiroid akut dan 9.000 orang lainnya mengidap leukemia, anemia, serta kehilangan kekebalan tubuh. Semua itu akibat radiasi nuklir ketika PLTN meledak pada 26 April 1986 pukul 01.23.

Cuma itu? Ternyata tidak, sebab kandungan iodine tanah dan logam berat strontium 90 serta caesiun 137 terserap oleh tumbuhan, serangga, dan jamur. Efeknya mempengaruhi makanan sehari-hari penduduk setempat. Iodine, misalnya, memicu kanker thiroid seperti banyak terjadi di Belarus dan Rusia. Radias nuklir bagi mereka memang mengancam nyawa.

Secercah harapan muncul ketika L.P. Loseva and I.V. Dardynskaya, dari Research Institute of Radiation Medicine, Minsk, Belarus, melaporkan hasil riset yang melibatkan 100 anak. Konsumsi 5 gram spirulina setiap hari selama 20 hari menekan 50% kandungan radioaktif pada urine.

Menurut Belookaya T Corres dari Komite Anak-anak Belarus, spirulina menurunkan radiasi akibat konsumsi makanan terkontaminasi zat radioaktif cesiun 137 dan strontium 90. Tumbuhan bersel satu itu meningkatkan kesehatan tubuh manusia sehingga digunakan sebagai terapi bagi orang yang terkena radiasi. Riset lain melibatkan 49 anak berusia 3-7 tahun di Beryozova, Belarus. Ekstrak spirulina diberikan selama 45 hari. Para dokter menemukan sel T dan hormon pengatur tumbuh meningkat. Sebaliknya 83% radioaktif pada urine menurun.

Peneliti juga menyimpulkan pikosianin dan polisakarida meningkatkan reproduksi sumsum tulang dan kekebalan sel. Rusia mematenkan spirulina pada 1994 sebagai makanan obat penurun reaksi alergi pada pasien yang teradiasi. Paten itu berdasarkan penelitian terhadap 270 anak yang hidup di radiasi tinggi. Setelah diberi 20 tablet atau 5 gram spirulina per hari selama 1,5 bulan, sensitivitas terhadap alergi pun normal. Riset-riset itu meneguhkan spirulina sebagai panasea, obat mujarab bagi beragam penyakit. sumber majalah trubus.

Ampuhnya spirulina atasi penyakit

Pekerjaan Liana Wati sehari-hari mengunjungi dan menghibur para pasien di sebuah panti. Namun, pada penghujung 2000, jangankan menghibur mereka, menghibur diri sendiri pun tak mampu. Ia mengurung diri di kamar sejak dokter mendiagnosis ia mengidap hepatitis C. Penyakit maut itu ketahuan bercokol di hatinya ketika ia mengecek kondisi kesehatan untuk memperoleh polis asuransi. Ibu 2 putri itu pun menolak dijenguk lantaran ia enggan mendengar lagi ucapan: hepatitis C tak dapat disembuhkan.

Liana Wati ingin mengelak dari diagnosis itu. Sayang, ketika mengecek ke laboratorium lain, hasilnya sama: hepatitis C. Sepekan setelah diagnosis itu, perempuan kelahiran Padang 18 Maret 1935 itu ambruk. Ia tak bertenaga seolah tubuh tanpa tulang-belulang. Seluruh aktivitas dilangsungkan di atas pembaringan. Seorang dokter dan 3 sinse menangani kesehatannya.

Namun, kondisinya kian memburuk, tubuhnya kurus kering. Sebulan berselang atas saran kerabat, nenek 4 cucu itu mencoba spirulina cair. Dosisnya 2 sachet-masing-masing 14,8 ml-3 kali sehari. Keesokan harinya ia menghentikan konsumsi seluruh obat dokter. Pada hari kedua, ia merasa amat bertenaga. Enam bulan berselang, Liana mengecek kondisi lever. Hasilnya, virus mematikan penyebab hepatitis C itu enyah. Liana sembuh.

Ir Badriatur Rahmaniah (43 tahun) juga merasakan faedah spirulina. Alumnus Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor itu menderita kanker payudara stadium II B. Operasi yang disarankan dokter ditolak. Beruntung seorang dokter memperkenalkan spirulina. Ia mengkonsumsi 1 sachet spirulina sehari. Rasanya tubuh lebih segar. Mulai Februari 2005, dua sachet spirulina diminum setiap hari. Dua pekan berselang, benjolan mengecil.

Hasil pemeriksaan di RSAD Gatot Subroto, sel kanker mengecil, dari 2,5 x 1,5 x 1,0 cm3 menjadi 1 x 0,62 x 0,62 cm3. Bobot tubuh meningkat dari 45 kg menjadi 50 kg. Dalam waktu dekat, ia berencana memeriksakan diri ke dokter. Yang merasakan manfaat spirulina tak hanya Liana Wati. Kusnadi Prawira yang mengidap jantung koroner, Tri Ayurina (kanker payudara), Andreana Subiyati (stroke) hanya beberapa pasien sembuh setelah mengkonsumsi spirulina.

Supermini

Di tengah maraknya penggunaan bahan alam, spirulina salah satu pilihan untuk pengobatan penyakit maut. Sebetulnya spirulina bukan barang baru di dunia pengobatan. Sejak 400 tahun lampau, herbal itu merupakan makanan tradisional suku Aztek dan Maya di semenanjung Yucatan, Meksiko.

Wajar jika keamanan mengkonsumsi spirulina terjamin. Pun bagi anak-anak dan perempuan hamil. Spirulina makanan yang mempunyai sejarah panjang dari segi keamanannya. Namun, mutunya tergantung tempat tumbuh. Spirulina tercemar tentu berbahaya, ujar Prof Dr Ali Khomsan, ahli gizi Institut Pertanian Bogor. Dosis anjuran 1-5 gram per hari. Efek samping bila berlebih. Karena berfungsi sebagai makanan, tak ada efek samping yang membahayakan, walau diberikan dalam dosis tinggi, katanya.

Kini popularitas tumbuhan bersel satu itu melambung. Banyak dokter di Indonesia yang menyarankan-jika tak boleh disebut meresepkan-tanaman obat itu. Spirulina merupakan ganggang hijau-biru berukuran amat mini, 1 mm. Sebutan spirulina mengacu pada bentuknya yang spiral.

Menurut Prof I Nyoman Kabinawa, periset Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi, terdapat banyak spesies spirulina yang hidup di air laut, payau, dan tawar. Spirulina yang hidup di laut mampu tumbuh pada kedalaman hingga 600 m. Dibandingkan dengan sinar matahari yang diterima tumbuhan darat, intensitas sinar matahari yang menembus air dan diterima spirulina jauh lebih sedikit.

Kalau makhluk bisa hidup dengan sumber energi amat minim, maka ia mempunyai kemampuan hidup yang kuat. Ia mempunyai cadangan energi tinggi. Oleh karena itu spirulina banyak dimanfaatkan untuk mengembalikan kesehatan, ujar Wahyu Suprapto, herbalis di Batu, Jawa Timur.

Terlengkap

Spirulina itulah yang kini banyak diharapkan mencegah dan menyembuhkan beragam penyakit maut. Bagaimana duduk perkara tumbuhan itu mampu menjadi panasea-obat mujarab beragam penyakit? Ketika diwawancarai Trubus, Bob Capelli, vice president Cyanotech-produsen terbesar spirulina di dunia-mengungkapkan, Spirulina pangan terbaik di antara pangan lain karena mengandung nutrisi paling lengkap.

Capelli yang memproduksi 30 ton spirulina per bulan di Kailua, Hawaii, tak berlebihan. Sekadar menyebut beberapa nutrisi spirulina adalah betakaroten, zeasantin, dan pikosyanin. Kandungan ke-3 senyawa aktif itu masing-masing 23.000 IU, 8 mg, dan 1.500 mg. Senyawa-senyawa itulah yang berperan sebagai antioksidan sehingga meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Spirulina mempunyai kekayaan antioksidan yang luar biasa untuk menetralisir radikal bebas, ujar ahli herba alumnus Rutgers Uniersity itu.

Menurut Dr Komari MSc, periset Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan, antioksidan memperkuat sistem imun. Sel imun terdiri atas sel berukuran besar dan kecil. Peran antioksidan menjembatani kedua sel itu sehingga sistem kekebalan tubuh menjadi kuat. Itu persis hasil riset Hayashi dari Fakultas Farmasi, Toyama Medical & Pharmaceutical University, Jepang.

Ia membuktikan tingkat kekebalan tubuh mencit yang diberi Spirulina platensis lebih tinggi. Musababnya produksi antibodi satwa pengerat itu meningkat. Selain itu jumlah sel fagosit juga melambung.

Membangun sel

Menurut Dr Mangestuti Agil, farmakolog Universitas Airlangga, orang sakit karena kekurangan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk metabolisme sel. Kerja sel ngga benar sehingga terjadi ketidakseimbangan, ujarnya. Oleh karena itu setiap sel harus mendapat nutrisi yang lengkap agar dapat bekerja dengan baik. Kata dr Oetjoeng Handajanto, ahli terapi kolon, salah satu sumber nutrisi terbaik bagi sel adalah spirulina.

Kandungan gizi spirulina lengkap dan mudah diserap tubuh sehingga melancarkan pencernaan. Dengan kandungan gizi lengkap, tubuh memperbaiki sel-sel rusak. Hal senada diungkapkan dr Zen Djaja MD, di Malang, Jawa Timur. Menurut alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atmajaya itu spirulina memulihkan penyakit degeneratif alias menurunnya fungsi-fungsi sel.

Protein yang lengkap dengan asam amino esensial berfungsi membangun sel-sel tubuh. Pada kasus stroke, spirulina membantu mengarahkan sel-sel otak sehingga mencegah stroke ulangan sekaligus mendorong regenerasi sel, katanya. Namun, menurut Dr Komari tingginya kandungan protein pada spirulina-mencapai 70%, tidak serta-merta meregenerasi sel. Tergantung bagaimana tubuh mencerna zat itu. Oleh tubuh protein bisa dicerna menjadi asam amino, hormon, atau hanya menjadi energi. Protein adalah salah satu sumber energi, ujarnya.

Komari, doktor gizi, mengatakan kelebihan lain spirulina adalah kandungan vitamin A dan D sangat baik bagi kesehatan mata dan tulang. Kadar vitamin K mencapai 2,5 kali lipat dari kebutuhan dan zat besi yang memenuhi 80% kebutuhan tubuh melancarkan peredaran darah. Kandungan kromium pada spirulina mencapai 21% dari kebutuhan tubuh juga baik bagi penderita diabetes untuk merangsang kinerja pankreas memproduksi insulin.

Masih ada faedah lain spirulina. Klorofil yang tinggi berguna sebagai detoksifi kasi atau mengeluarkan racun termasuk radikal bebas dalam tubuh. Radikal bebas memicu beragam penyakit seperti kanker, ujar dr Maria Theresia Karnadi di Cilandak, Jakarta Selatan. Spirulina juga kaya enzim superoksida dismutase (SOD), mencapai 332-647. Peran SOD juga mengikat radikal bebas.

Radikal bebas merupakan atom yang tak memiliki pasangan sehingga reaktif merusak jaringan. Disebut radikal bebas karena mempunyai kebebasan untuk melakukan pengikatan-pengikatan dengan senyawa-senyawa sekitar. Stres dan pancaran sinar matahari menimbulkan radikal bebas, ujar dr Oetjoeng Handajanto lulusan Fakultas Kedokteran Universitt Bochum Jerman. Nah, SOD mampu mengikat radikal bebas sehingga menjadi sesuatu yang tidak lagi mampu mengikat.

Singkat kata thallophyta-tumbuhan tanpa akar, batang, dan daun sejati-itu mampu mendongkrak kekebalan tubuh. Jika daya tahan tubuh meningkat, mengurangi serangan penyakit. Bila daya tahan tubuh rendah, sel darah putih tak mampu melawan penyebab penyakit, ujar dr Oetjoeng Handajanto.

Banyak cara

Selain bersifat preventif, spirulina pun dapat digunakan sebagai terapi kuratif untuk mengatasi beragam penyakit. Menurut Yana Maolana Syah MS PhD, peneliti bahan alam Institut Teknologi Bandung, spirulina mempunyai komponen yang khas bernama oligosakarida. Ternyata oligosakarida menjadi antivirus, antitumor, dan mencegah penyebaran kanker, ujar doktor Kimia alumnus University of Western Australia itu.

Bagaimana spirulina mengatasi sel kanker? Itu lantaran spirulina mampu menghasilkan faktor alfa seperti disampaikan Ali Khomsan. Alfa zat kimia yang tokcer menggempur sel tumor. Mekanisme lain, lantaran tumbuhan itu mengandung polisakarida yang mampu memperbaiki sintesis kode gen deoxynucleutide acid (DNA). Spirulina juga meningkatkan aktivitas enzim inti sel sehingga membuat DNA dalam kondisi baik dan sehat.

Dokter Oetjoeng menuturkan pada kasus kanker, spirulina berperan mengatrol pH darah. Harap mafhum, tingkat keasaman darah penderita kanker amat rendah 5,7-6,5. Padahal, idealnya pH darah 7,3. Bila pH darah turun terus, darah kehabisan oksigen dan berakibat kematian, ujar dokter berusia 55 tahun itu. Spirulina dapat meningkatkan pH darah lantaran bersifat basa.

Sel kanker memang dipicu oleh makanan yang bersifat asam seperti daging, telur, dan soda. Konsumsi berlebihan makanan bersifat asam menyebabkan oksigenasi darah menurun. Akibatnya, tubuh lemas, lesu, dan capai. Tubuh cuma memerlukan makanan asam 20%; basa, 80%. Keistimewaan spirulina tak cuma itu.

Dalam khazanah pengobatan cina, hai zao alias spirulina segar bersifat dingin dan asin. Bahan bersifat asin berfungsi melunakkan atau menghancurkan. ?Oleh karena itu bagus diberikan untuk penyakit yang mengalami pembengkakan atau benjolan di tubuh, termasuk tumor dan kanker. Bengkak itu biasanya panas sehingga diobati dengan bahan yang bersifat dingin, ujar William Aditeja, dokter alumnus Beijing University of Traditional Chinese Medicine.

Menurut Wahyu Suprapto, herbalis sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dalam pengobatan cina ada 2 gejala penyakit: yin dan yang. Jika seseorang dalam kondisi yang diberi obat bersifat yang dan kondisi yin diberi obat yin, justru makin sakit. ?Spirulina itu mempunyai karakteristik yin, jadi cocok untuk orang dengan gejala yang, ujarnya.

Penyakit dengan gejala yang-cenderung ingin sesuatu yang dingin-contohnya diabetes. Namun, ada pula kencing manis bertipe yin ditandai dengan kerap berurine.

Makanan

Spirulina kini banyak dikonsumsi dalam bentuk bubuk, cair, dan tablet. Itu hasil olahan beberapa spesies spirulina yang telah diteliti khasiatnya oleh berbagai perusahaan. Sekadar menyebut contoh PT Diamond Interest merilis merek Spirulina, PT Elken Internasional Indonesia (Elken Spirulina), PT K-Link Indonesia (Larutan Organik Spirulina), PT Luxor Inma (Spirulina Pasifica), PT Pentamas Adhika Lestari (Spirumate), PT Surya Pagoda Mas (Revita), dan PT Ultratrend Biotech (Spiruplus).

Hingga saat ini di Indonesia belum terdapat pembudidayaan spirulina. Menurut Prof I Nyoman Kabinawa, periset spirulina, perairan Indonesia-tawar, payau, dan laut-potensial untuk pengembangan ganggang hijau-biru. Syaratnya antara lain pH 8, 5-11, bersih, dan bebas polusi. Lagi pula tumbuhan itu amat adaptif di berbagai kondisi perairan.

Lokasi budidaya spirulina umumnya di mancanegara seperti Amerika Serikat dan Cina. Hasil panen berupa spirulina cair diolah dengan teknologi pengeringan beku untuk mencegah oksidasi terhadap betakaroten dan asam lemak lain. Bahan bubuk itulah yang diolah menjadi kapsul, serbuk, atau cairan spirulina. Produk mereka itu kini merambah pasar dan menjadi harapan kesembuhan bagi para pasien.

Memang banyak bukti empiris khasiat spirulina mengatasi beragam penyakit. Meski begitu, produsen dan para dokter tetap mengklaim spirulina bukan obat, tapi makanan fungsional. Spirulina memang tidak mengobati, tubuh memperbaiki diri sendiri, ujar dokter Oetjoeng. Ia menganalogikan montir bila gagal menemukan onderdil, mobil tetap rusak dan tak dapat berjalan. Onderdil bagi tubuh adalah makanan, spirulina onderdil yang amat lengkap lantaran memberikan semua yang dibutuhkan tubuh.

Namun, menurut dr Dadang Arief Primana SpKO, SpGK konsumsi suplemen tak perlu bila makanan sehari-hari memenuhi kategori gizi seimbang sesuai kebutuhan. Zat-zat yang terkandung dalam spirulina sama dengan zat dalam makanan lain, ujar dokter spesialis gizi klinis itu. Pada umumnya masyarakat mengkonsumsi spirulina ketika sakit mereka tak kunjung sembuh, meski berbagai pengobatan ditempuh seperti dialami Anthony Fu yang 4 tahun mengidap lupus. Sebulan setelah rutin mengkonsumsi spirulina, kadar hemoglobin meningkat menjadi 13 gram per dl dari sebelumnya 7 gram per dl.

Ahli gizi seperti Prof Dr Ali Khomsan menuturkan, suplemen tetap diperlukan untuk menopang kecukupan nutrisi. Itu lantaran kadar nutrisi spirulina lengkap dan lebih tinggi ketimbang makanan biasa. Contoh, protein spirulina 3 kali lebih tinggi daripada daging sapi, kalsium 6 kali lebih tinggi ketimbang susu, dan zat besi 100 kali lebih tinggi daripada bayam. Kandungan senyawa aktif itulah yang membantu mewujudkan harapan kesembuhan banyak pasien. sumber majalah trubus.